Surat Tak Berjudul

Teruntuk Tuan yang baik, 

Sejujurnya, aku justru tak menginginkan Tuan membaca sepucuk surat ini. Sebab aku berharap Tuan telah berhasil memalingkan hati Tuan. Menyambut takdir terbaik Tuan, pada tambatan hati terbaik yang siap lahir batin menerima Tuan.

Tuan, hanya selintas kita bersimpangan jalan. Tanpa tatap mata, tanpa bertukar cakap. Entah apa yang membuat pilihanmu jatuh padaku yang bukan sesiapa ini. Kepercayaan yang mahal ini, justru membuat diri kian gamang. Apakah aku benar-benar pantas?

Pada akhirnya, aku memilih mundur. Sebab aku percaya, Tuan yang baik pantas bersanding dengan yang terbaik pula. Tak perlu tunggu-menunggu, sebab langkahku terlalu tertatih untuk menyamaimu yang diburu waktu.

Kehadiranmu, Tuan, sesungguhnya menyadarkanku dari tidur lelapku. Membuatku sedikit tersentak, bahwa suatu hari nanti waktuku pun akan menipis. Kelak, tiada guna menyesal, tersebab aku gagal bersiap dengan baik. Maka selagi waktuku masih panjang, Tuan, aku akan belajar. Akan kugunakan masa yang tersisa untuk membenahi diri.

Sementara itu, harap terdalamku untuk Tuan: bahagialah selalu, di dunia dan di hari kemudian.


---

Dramatic, I know 😅

What can I say? I love drama (but pls don't make this sounds so twisted). 

Comments

Popular Posts