Menyapa Dirimu yang Hilang
Ada cerita apa hari ini? Tampak langkahmu yang masih gamang, bimbang tak tentu arah. Di lain waktu, acap kali aku melihatmu terengah-engah, lari tunggang-langgang dari sergapan problematika kehidupan.
Satu yang kutahu pasti: ternyata menapaki tangga kedewasaan sesulit ini ya?
Belasan tahun silam --tunggu, terlampau jauh-- bahkan separuh dekade yang lalu, kau kira rancangan linimasa kehidupanmu sudah paling sempurna dan ideal, bukan? Semua akan berjalan sesuai waktunya, begitulah harapmu kala itu. Siapa sangka, semuanya porak-poranda...
... kuharap kau bisa mengatakannya keras-keras. Namun lisanmu menahan mati-matian agar tak sepatah sumpah serapahpun keluar. Jangan kau kufur nikmat! sergahmu.
Tempo hari, kau memaksa dirimu mendatangi majelis itu. Sebab dirimu terlampau kotor dan tak ingin terjerumus kian dalam di kubangan dosa. Sang guru hafizhahullah mengulang-ulang sebuah tema yang menurutmu saat itu tidak terlalu relate.
Jauhi hasad! titahnya.
Sungguh, kapan pula terbesit dalam hatimu perasaan yang demikian? Telah mafhum kau bahwa tiap insan akan menapaki jalannya masing-masing. Mana mungkin aku hasad? pikirmu.
Bahasan hasad ini, sahabat, barangkali bukan untuk dirimu di hari ini. Mari kita simpan untuk kemudian hari, semoga rabb-mu hadirkan pengetahuan ini kala kau membutuhkan.
Kita beralih sejenak. Ingatkah kau ketika Sang Guru hafizhahullah menyebutkan, "Orang beriman akan selalu melihat masalah sebagai peluang pahala dan penggugur dosa?" Kuharap kau akan selalu mengingat petuah ini manakala masalah mulai menghantammu. Masihkah terpatri di hatimu ayat yang senantiasa menguatkan hatimu sejak dahulu itu? Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa.
Selanjutnya, berbahagialah dengan sebaik-baik rasa bahagia. Berbahagialah, tidak dengan senda-gurau dunia yang semu, namun dengan memaknai rasa syukur dan sabar. Entah itu kala kau mendapat sesuatu, atau kehilangan sesuatu, berbahagialah, sebab Allah menyelamatkanmu dengan keduanya.
Penutup kali ini: ber-husnuzhan-lah pada takdir Allah. Masih dengan mengutip perkataan Sang Guru: ada hamba Allah yang imannya baik saat dia dalam keadaan faqir, dan jika diberi kecukupan justru akan rusak imannya. Ada pula hamba lainnya, imannya akan melesat jika Allah cukupkan dirinya dari keadaan faqir. Semoga kau selalu ingat agar tak sekali-kali meragukan kemahatahuan-Nya, sebab tak ada yang lebih mengenal kita dibanding Sang Pencipta.
Selamat berjuang kembali. Jika berat bagimu untuk senantiasa menjejak dalam kebaikan, setidaknya jangan sampai kau tinggalkan kebaikan itu seluruhnya. Yaa muqallibal quluub, tsabbit quluubana 'aladdiinik.


Comments
Post a Comment