Cerek

"Huaahhhh capeeeek..." keluh pemuda itu. Ia menguap lebar-lebar, lantas meregangkan otot-ototnya yang kaku. Baru saja usai kelas daring yang ia ikuti lewat perangkat elektroniknya. Ia rebahkan diri sejenak, melepas penat. 


Satu pesan masuk di ponselnya. 


"Jangan lupa besok rapat kepanitiaan jam 10 pagi. Pada bisa semua kan ya?"


Ya, bisa, jawabnya singkat di kolom pesan. 


Kembali ia buka laman pembelajaran milik kampusnya, sembari melihat-lihat instruksi tugas yang harus ia selesaikan. Banyak juga, gumamnya. Gue kerjain besok aja lah. Hari ini rasanya capek banget. 


Sementara itu, sembari berbaring, ia mengingat-ingat apa saja yang telah ia kerjakan hari itu. Pagi tadi, ia membeli sesuatu di warung kelontong dekat kontrakan yang ia tinggali seorang diri. Sebab uang yang ia bawa kurang, akhirnya ia terpaksa berhutang pada Ibu pemilik warung. 


"Sisanya besok ya, Bu." Pemilik warung tidak mempermasalahkan. Toh, warung dan kontrakan pembeli tersebut tak terpaut jauh jaraknya, begitu mungkin pikir si Ibu. 


Usai sejenak menonton video-video singkat di ponselnya, ia letakkan perangkat tersebut. Matahari baru akan terbenam. Ia tatap lekat-lekat plafon kamarnya dengan pikiran entah ke mana. Ia amati satu per satu noda di langit-langit, hingga tanpa sadar ia telah dibawa menjelajah alam lain.


Astaghfirullah! Gue tidur udah kayak orang mati. 


Ia terbangun di waktu yang amat aneh. Pukul 10 malam, di saat orang-orang baru akan beranjak tidur, ia justru terjaga. Kepalanya malah kini mulai berdenyut. Ia juga baru sadar kalau telah melewatkan waktu shalat magrib. Ah, ya sudahlah. Sudah terlanjur, batinnya. Alih-alih terpikirkan untuk mengqadha shalatnya, ia justru bangkit mengambil cerek dan mengisinya dengan air galon. Bikin teh panas kayaknya enak juga.



Ia beranjak ke dapur dan meletakkan cerek di atas kompor. Api biru menyala, menjilat bagian bawah cerek tersebut. 


Dengan tubuh bersandar ke tembok, pemuda tersebut terdiam dan menunggu. Kepalanya masih berdenyut, namun beberapa saat, napasnya mulai tersengal-sengal. Tenggorokannya serasa tercekat. Ia merasakan nyeri yang teramat hebat di dada kirinya. Sesak… sangat sesak, hingga akhirnya tubuhnya ambruk begitu saja di lantai dapur. Pandangannya mengabur seketika, lalu...


Gelap.


Anehnya, bersama hadirnya gelap itu, rasa sakitnya lenyap saat itu juga. 


Di malam yang panjang tersebut, sebuah cerek masih terus menjerit. Tanpa seorangpun memadamkan api yang masih menyala. Yang warga tahu, keesokan paginya, pengeras suara masjid menyiarkan sebuah kabar kematian. 



{ وَلَا تَقُولَنَّ لِشَاْيۡءٍ إِنِّي فَاعِلٞ ذَٰلِكَ غَدًا }

{ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلۡ عَسَىٰٓ أَن يَهۡدِيَنِ رَبِّي لِأَقۡرَبَ مِنۡ هَٰذَا رَشَدٗا }


[Surah Al-Kahf: 23-24]


(23) Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,”

(24) kecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.” Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.”


Comments

Popular Posts