Aku Mau Buku (dan Raknya)!
![]() |
| Sumber : pexels.com |
Lama sekali kubiarkan blog ini usang. Janjiku pada diri ini untuk menulis setidaknya sebulan sekali, sempat kuingkari tempo hari. Sibuk, katanya. Pekerjaan selalu dijadikan alibi.
Maka dari itu, izinkan aku menyapa kembali.
Halo!
Siang tadi, aku iseng-iseng membuka platform toko online berlogo oranye. Menggulirkan layar untuk mencari satu barang yang sejak lama masuk daftar keinginanku : rak buku.
Entah sudah berapa lama aku tak lagi meluangkan waktu untuk membaca buku secara serius. Di luar buku-buku perkuliahan, tentunya. Beberapa buku pinjaman bahkan belum jua tersentuh. Aduhai, terlalu asyik dengan layar gawai rupanya. Tiada lagi buku-buku menjadi pelarian terbaik untuk melepas penat dan bosan. Kalau boleh jujur, memang demikian adanya, bahwa gawai menawarkan sederet hiburan menyenangkan nan instan, beragam informasi, macam-macam pokoknya. Pun ditambah alasan bahwa semenjak pandemi, kita dengan gawai makin erat bak perangko dengan amplop. Makin menjadi-jadi lah kecanduan itu. (Iya, aku sebut saja sebagai "kecanduan", ya. Masa bodoh kalau kamu berdalih jika gawaimu adalah bagian penting dari kegiatan perkuliahan, organisasi, maupun pekerjaan. Coba lihat durasi pemakaian gawaimu dan untuk keperluan apa saja, mari kita buktikan 😛).
Kembali ke soal pembiasaan membaca buku. Aku tidak mau muluk-muluk dulu, sebab yang muluk-muluk biasanya sulit terealisasikan bagiku. Intinya, aku akan baca buku. Diusahakan betul. Semoga saja saat aku mulai bosan dan hendak berselancar membuka platform-platform media sosial yang tak terlalu bermanfaat itu, aku akan langsung teringat bahwa ada sebuah buku yang tengah menanti untuk kulahap isinya. Satu buku di tas ransel setiap harinya. Harus habis, jangan terlalu lama mengendap apalagi kalau itu buku pinjaman.
Selain itu, aku berharap semoga Allah berkenan memberikan kelapangan rezeki untuk membeli buku-buku berkualitas. Bekas tidak masalah. Apalagi untuk buku-buku impor, sebab buku-buku asli berbahasa Inggris cenderung mahal harganya jika masih baru (atau memang sepertinya aku yang belum pandai mencari tempat-tempat membeli buku bagus yang murah). Juga tak lupa, semoga Allah memberikan kelapangan hati bagi orang-orang rumahku agar aku boleh membeli rak buku hehe... Mumpung kamar belakang sudah direnovasi dan masih cukup lapang, rasanya bahagia sekali membayangkan buku-bukuku yang kelak akan begitu banyak, tersusun rapi bak di Gramedia, hanya sejangkauan saja dari genggamanku. Sedikit-sedikit dulu, ya kan? Sebab aku ingin sekali punya kamar seperti salah satu Kakak yang pernah kukunjungi rumahnya. Kamarnya mungil, namun buku-buku memenuhi rak yang terletak di salah satu sisi ruangan. Oh, ya, sebetulnya kata Ummi, kita masih punya bufet yang cukup lapang. Tapi apa asyiknya menaruh buku di tempat tertutup dan terkunci? (Kecuali mungkin kalau buku-buku itu amat penting, semacam dokumen arsip negara, hehe). Yang ada, malah semakin hilang minat untuk membaca. Maka dari itu, pokoknya, target harus punya rak buku sendiri!
Sebegitu menggebu-gebunya aku. Ya, begitulah. Hal ini dikuatkan oleh salah satu tulisan Ust. Amar Ar Risalah:
"Bukalah [perpustakaan] di rumahmu sendiri! Jangan rapat dengan siapapun. Ubahlah ruang tamumu, menjadi perpustakaan.
Suatu saat, bangsa asing akan mencatat begini dalam memoar mereka:
Ada sebuah negeri, yang penduduknya menjadikan ruang tamu mereka sebagai perpustakaan. Indonesia."
... Atau jika dalam kasusku, mulai dari kamar dulu aja, deh, untuk mencerdaskan diri dan bangsa kelak. Asik~



Comments
Post a Comment