Kepada Pejuang Tersayang

Hai ☺

Lama tak menyapa. Pekerjaanmu sungguh menyita waktu, bukan begitu? Pun waktu luangmu yang pada akhirnya kau habiskan untuk benar-benar mengusir penat, sebab ada kewarasan yang harus dijaga. 

Apa kabarmu hari ini? 

Di tengah penyebaran wabah yang semakin mengganas, justru keringat yang harus kau kucurkan kian deras. Bagaimana mungkin, katamu, saat beribu nyawa berada di ujung tanduk tiap harinya, kau pun dengan sukarela turut menyerahkan nyawamu dengan turun ke jalan? 

Aku paham. Benar, mungkin kau mengharap segenggam rupiah itu. Yang barangkali suatu saat akan kau belanjakan rupa-rupa barang impianmu. Atau sesekali kau belikan makanan kesukaanmu. Atau sekedar agar kau tak perlu terus-menerus melihat air bercucuran dari langit-langit kamarmu tiap kali hujan turun. 

Aku mengerti. Bahwa sesungguhnya apa yang kau cari jauh melampaui sekedar materi. Yang kau cari itu ialah sebentuk bakti yang tak akan pernah mampu kau bayar lunas di bumi ini. Ia menjelma sebentuk bakti bernama birrul walidayn.

Tentulah kau merasa, pecundang seperti engkau takkan mampu membayar penuh semua itu. Takkan pernah mampu. Namun kau berusaha, berusaha, dan tetap berusaha.

Terima kasih telah berusaha tabah, walau sejatinya kau amat ingin berkeluh kesah. 

Terima kasih telah berusaha tegar, walau kisah-kisahmu belum tentu ada yang mau mendengar. 

Terima kasih tetap berjuang dan bergerak, walau kuyakin hati kecilmu masih akan senantiasa memberontak.

Berbahagialah atas nikmat-nikmat kecil maupun besar yang telah Allah sediakan bagimu.

Semoga Allah senantiasa melindungi dari marabahaya. 

Semoga Allah senantiasa mencukupkan. 

Dan semoga engkau pula, akan selalu merasa cukup. Tiada dengki, tiada lagi berdusta, tiada pula mengeluh tersebab takdir yang Allah gariskan untukmu.

Selamat berjuang. Selamat menyongsong hari-hari panjang yang akan kau baktikan hanya pada Tuhanmu semata. 


Comments

Popular Posts