QLC


Yep. This has been disturbing me since a very long time. 

Melihat teman-teman tumbuh berlarian melesat, sementara aku masih terdiam, termangu. 

Menimbang nasib. Hendak memulai apa dan dari mana, tidak tahu. 

"Jadi, kamu iri, Nad?"

Ya dan tidak. Aku bahagia, sangat bahagia dengan pencapaian mereka. Bangga bahwa dia, orang yang kini berdiri di atas podium, adalah kawan baikku. Ia menghargaiku dan aku pun menghargainya. 

Namun diri tak menampik, bahwa melihat betapa banyak kebaikan yang mampu mereka jemput, terasa bak menabur garam pada luka. Pedih, sedemikian sajakah yang mampu kuperbuat hari ini? 

"Setiap orang punya masa dewasanya masing-masing, Nad. Timing-mu mungkin bukan sekarang, namun nanti entah kapan. Jangan khawatir."

Betul. Tapi menjadi dewasa adalah sesuatu yang perlu diusahakan. Tidak semerta-merta hadir bak durian runtuh. 

Aku termangu di depan cermin. Hendak dipatut seapik apapun, terlanjur sudah diri penuh dengan luka dan goresan batin. Tubuh berlumur penyesalan, janji dan angan kosong, entah apa lagi ... 

Aku masih berharap. Selagi detik ini diri masih mampu bernapas, berarti detik ini pula, kebaikan masih mampu diusahakan. Kusandarkan segala perkara pada-Nya semata, seraya memohon dan melangkah tertatih-tatih perbaiki diri. 

Tidak apa-apa, kataku. Berusahalah dan berbahagialah. Sebab Allah telah berfirman dalam surat cinta-Nya, Dia sendiri dan Rasul-Nya yang akan melihat pekerjaan orang-orang mukmin.

Selamat datang di QLC, wahai diri. 

Berhenti meratapinya seperti orang-orang putus asa di luar sana. Berat bukan berarti tak mampu diusahakan. Bukan begitu? 😊


26 Jan 2021


---

QLC : Quarter Life Crisis. Bukan nama divisi di Qur'an Institute UNJ, ya 😄








Comments

Popular Posts