Titik Balik Juangmu

Sumber gambar: https://tirto.id/demo-mahasiswa-hari-ini-di-jakarta-jogja-solo-semarang-madura-eiXU


Hari Pendidikan Nasional. Dua tahun menjelang pergantian milenium.

Pagi itu, telepon di rumah nenek berdering. Sebuah panggilan masuk dari Jakarta. Dari kakakku tersayang, kebanggaan kami semua. Kakak yang berusia hanya terpaut setahun dariku, dan tengah menimba ilmu sebagai mahasiswa tingkat satu di kampus negeri ibukota. Sebuah institusi pencetak guru-guru terbaik negeri.

Sebuah suara menyapaku dari seberang. Dari sebuah bilik telepon umum, tebakanku.

“Duh, calon guru kita. Selamat Hardiknas, Kakak. Jangan lupa pulang ya,” selorohku.

Tidak, belum bisa. Aku ingat betul kata-katamu hari itu, dan berulang kali kau pun mengucap maaf. Ah, sebegitu sibuknya ya menjadi mahasiswa. Tidak apalah, hanya kau harapan kami semua, Kak. Satu-satunya yang mendapat privilese di antara kami, sebab otakmu memang cemerlang.

Satu-satunya harapan pengubah nasib kami, di tengah kondisi yang kian mencekik. Oleh krisis moneter dan entah apa itu sebutannya.

“Jaga diri ya, Kak. Kulihat di TV, Jakarta sedang kacau. Apa Kakak ikut demonstrasi juga?” Kudengar resah suaramu, kurasakan aroma kebimbangan dari kata-katamu. Kau mengiyakan, namun kau pula yang membuatku berjanji agar tak bicara macam-macam pada Nenek, satu-satunya wali kami.

“Apapun yang terjadi, Dik, langitkan doa terbaikmu bagi bangsa ini. Harus ada yang bertindak demi memperjuangkan apa yang sudah menjadi hak. Percayalah padaku, Dik. Kita akan segera menyongsong hari esok yang lebih baik.”

Aku tak tahu darimana Kakak belajar kata-kata itu. Mungkin pengaruh buku-buku yang kini kau baca, atau apapun yang tengah Kakak lakukan. Sesuatu yang tak pernah kudengar dari Kakak hingga saat ini.

Sehari. Dua hari. Seminggu. Dan hari-hari berikutnya, hari-hari berdarah. Kerusuhan pecah, beriringan dengan secercah harapan yang muncul. Sebuah masa depan yang, katanya, akan cerah.

Akan tetapi, kau tak pernah kembali.

---

Aku telah tiba di milenium kedua dengan selamat. Tuhan pun masih berbaik hati mengizinkanku menghirup udara hingga berlalu dekade kedua. Walaupun udara itu, kawan, kini berisi makhluk tak kasat mata yang berkeliaran bebas, siap melahap organ pernapasan. Makhluk-makhluk mikroskopis yang memaksa kami semua mengurung diri di rumah, atau jika tak ada piilihan lain, tetap mengadu nasib, menantang maut di luar sana.

Hari ini adalah bulan kesepuluh, tahun pandemi. Putraku tercinta baru saja usai mengikuti rangkaian penerimaan mahasiswa di kampus barunya. Almamater yang sama denganmu dahulu, Kak. Ia luar biasa, mampu bertahan dalam peliknya kondisi. Jika bukan karena otak cemerlangnya yang serupa engkau Kak, aku bahkan ragu ia masih mampu melanjutkan studinya dengan kondisi kami yang terseok-seok ini.

Malam itu, ia mendekatiku. Duduk di sisiku.

“Bu ...” tatapannya dalam dan memohon, meminta restuku untuk turun ke jalan. Aku tak kuasa. Bagaimana mungkin aku tak teringat pada engkau?

Seketika, lantunan Totalitas Perjuangan  kembali menggema dalam benak. Sebuah lagu yang kudengar dari ponsel bekas anakku saat ia mengikuti agenda penerimaan mahasiswa baru secara daring tempo hari. Bait-bait pesan dalam lagu Buruh Tani, bahkan pula lagu itu, Darah Juang. Alunan melodi yang menyayat hati. Tak terasa, genangan di pelupuk mata mulai membanjir. Tumpah ruah.

Mereka dirampas haknya,

Tergusur dan lapar,

Bunda relakan darah juang kami,

'Tuk membebaskan rakyat.

Aku tak pernah tahu sesungguhnya apa yang kau lakukan selama di Jakarta, Kak. Aku bukan mahasiswa sepertimu ataupun putraku. Namun aku tahu, yang kalian perjuangkan adalah kami.

Rakyat kecil yang butuh pembebas dari tikus-tikus penindas.

***

Suatu fajar di Kota Patriot, 8 Oktober 2020

Disunting seperlunya, 21 November 2023


Panjang umur perjuangan!

Comments

  1. MasyaAllah keren betul tulisan mbak Nadyaku ini ♡

    ReplyDelete
  2. Masyaallah 😭😭👍👍 baguss bangettt inii

    ReplyDelete
  3. Masyaallah 😭😭👍👍 baguss bangettt inii

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts