Gak Ada Akhlak

"(Taruh kata umpatan di sini) lah... tugasnya banyak banget, gak ada akhlak,"

"Udah tau lagi Corona, itu abang-abang di kereta malah pepet gua terus. Gak ada akhlak emang,"

Pastinya sudah nggak asing ya, dengan kata-kata tersebut?

Demikianlah, akhir-akhir ini, jagad maya maupun percakapan sehari-hari kawula muda tidak lepas dari bumbu "gak ada akhlak", atau yang kerap disebut "akhlak less" pula ini.  Yang saya amati, puncak fenomena ini sempat terjadi beberapa waktu lalu. Beberapa bulan silam, ada sebuah kontroversi akibat ulah salah satu tokoh serial animasi Negeri Jiran, di mana ia mengeluarkan ujaran tertentu kepada tokoh lain yang piatu. Yap, kalian pasti tahu serial apa ini, nggak perlu kusebutkan ciri-ciri serial ini dengan tokoh utama dua tuyul kembarnya, ya. Intinya, selepas celetukan tersebut, sang tokoh cilik langsung jadi bulan-bulanan Warganet +62. Mereka pun kerap menghujat bocah cilik ini dengan sebutan "akhlak less".

Kita sedari kecil mungkin sudah lebih-lebih familiarnya terhadap kata "akhlak" ini. Mungkin ini kata yang sering ditekankan orang tua atau guru-guru kita, terutama dalam konteks beragama dan berperilaku. Dikutip dari Wikipedia.com, akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat. Bisa kita simpulkan bahwa akhlak di sini merujuk pada tingkah laku seseorang yang terdorong oleh suatu keinginan sadar untuk berbuat baik ataupun buruk. Telah mafhum pula kita menyoal dua kategori besar akhlak: akhlak baik (akhlakul karimah/mahmudah) dan akhlak buruk (akhlakul mazmumah).

Akan tetapi, ada yang unik dari fenomena "gak ada akhlak" belakangan ini. Konteks penyebutannya seakan sedikit bergeser, tidak hanya menyoal budi pekerti seseorang saja. Contohnya seperti dialog pertama di awal artikel ini, di mana sang "tugas" lah yang menjadi kambing hitam dan terkena label "gak ada akhlak". Ada pula contoh berikut:

"(Taruh kata umpatan)... gantengnya gak ada akhlak. Tuhan, jadikan dia jodohku," celetuk sekelompok pemudi yang tengah ber-scroll ria di laman instagram mereka. Anggap saja saat itu mereka tengah sibuk stalking profil akun bias kesayangan mereka.

Waduh. "Tugas" yang notabene bukan benda hidup, juga kegantengan yang memang sudah anugerah dari sananya pun, nggak lepas dari label anak-anak gaul +62, ya.

Biar Asique Aja

Tujuh puluh lima tahun negeri ini tegak terpancang, dengan Bahasa Indonesia sebagai salah satu anugerahnya --bahasa pemersatu, jembatan penghubung antar suku yang maha kaya kebudayaannya. Sepanjang itu pula bahasa pemersatu kita berkembang dengan segala ragam bahasanya. 

Akan tetapi pada dasarnya, bahasa apapun, di negara manapun tidak akan lepas dari istilah-istilah gaul atau slang words. Bahasa gaul dinilai mampu memperluwes percakapan, terutama dalam konteks nonformal atau penggunaan sehari-hari. Terkhusus bagi kaum muda, terkadang ada saja rasa "tersisihkan" dari lingkar pergaulan, manakala kita tak mampu membaur dengan lautan kata-kata kekinian. Gak asik, katanya.

Pun tidak terhitung hingga kini, betapa banyak istilah-istilah gaul ini telah memperkaya kosakata bahasa kita. Tanyakan saja bahasa gaul zaman ayah ibumu saat masih suka jalan-jalan berduaan. Pasti jauh beda, bahkan istilah-istilah yang sempat berjaya di masa mereka, bisa saja membuatmu terkekeh dan heran bukan kepalang.

Begitulah bahasa. Perubahan ini, gak ada akhlak, memang. Namun, nggak ada salahnya kan, kita tetap budayakan berbahasa Indonesia yang baik dan benar?

Comments

Popular Posts