Perempuan dalam Ruang Ingatan
Nama itu menggema dalam benak. Menyusup dari ruang memori menuju relung hati terdalam.
Sebuah nama yang bagiku tanpa cela. Bak bidadari, ia rengkuh diri yang rapuh ini dalam sayapnya. Membiarkanku terlelap dalam selimut hangat. Hingga kusadari, hadirnya tak lebih dari sebatas ilusi. Fatamorgana oase di tengah padang mahaluas, tak pernah nyata. Tak pernah benar-benar ada.
---
"Ayo main di kali!" Seru perempuan berperawakan kecil itu. Wajahnya sumringah sekali.
Seorang bocah laki-laki duduk mematung di tepian pematang sawah, dekat rerimbunan pohon. Ah, malas sekali. Peluh belum juga kering, masih menganak sungai di pelipisnya, dagunya. Serasa cuci muka dengan keringat sendiri. Mentari pun masih pongah berdiri di tengah-tengah cakrawala.
"Nanti sore aja. Capek. Lagipula, masih siang ini." Sahut sang bocah lelaki. Apa pula mau bocah perempuan ini. Pekerjaannya masih banyak, ingin ia berdalih demikian.
"Bebeknya bisa titip diangon pakdemu, kan? Nggak bakal dimarahin kok." si bocah perempuan berusaha meyakinkan. Ah, apa iya? Dasar sok tahu, dengus si bocah lelaki.
Tapi ...
"Ayo, kali ini aja. Mau ya?" tak lekas menyerah si bocah perempuan meyakinkannya. Aduh aduh aduh... mata besar itu lagi. Siapa pula laki-laki yang tak terpikat, eh, maksudnya, siapa pula yang tak iba dengan seorang bocah perempuan yang merengek seperti hendak menangis macam itu? Iya, lelaki ingusan yang masih duduk di bangku kelas 4 SD pun bisa luluh.
Si bocah lelaki baru hendak buka mulut, bertanya di mana kakak lelaki perempuan tersebut, ketika ia tiba-tiba menyembul dari balik semak-semak dan berseru, "Yessss... ayo main!"
Dasar. Pasti ia mengirim adik perempuannya, supaya aku mau ikut bermain, batin si bocah lelaki.
Tak perlu berjalan jauh demi mencapai kali kecil yang mereka tuju. Hanya perlu menuruni jalan besar di sisi sawah, lalu menapaki tebing yang tak terlalu terjal. Tak sampai 500 meter di bawah sana, mengalir sebuah anak sungai yang berhulu tak jauh dari tempat itu. Suara air bergemericik terdengar beberapa jauh, bahkan sebelum kaki mereka menapaki tempat itu. Kedalaman air di tempat itu tak seberapa memang, namun arusnya bisa dibilang cukup deras. Bebatuan besar tampak di sana-sini, sebagai material yang terbawa dari atas gunung sana.
Tak lama, si bocah laki-laki, bocah perempuan juga kakak lelakinya, serta beberapa teman sebayanya, mulai bermain di tengah riak air kali. Begitu bening dan menyejukkan. Kaki-kaki kecil mereka berlarian menerjang derasnya air.
Sang bocah lelaki yang awalnya nampak enggan, kini pun ikut riuh berenang dan bermain di tengah arus. Dari arah belakang, tiba-tiba percikan air mengguyurnya dengan begitu keras. Tak jua berhenti, hingga berkali-kali. Tawa pun pecah diantara hantaman air bah ke tubuh lelaki itu.
"Kok di situ aja. Ayo maju dong, lawan!" ujar si bocah perempuan pembuat rusuh dengan menantang. Tak mau kalah, si bocah laki-laki balik mencipratkan air sebanyak-banyaknya ke wajah bocah perempuan. Asyik sekali.
Tak lama setelah perang air bah tersebut usai, sang bocah perempuan berujar, "Aku jadi ingat kata bu guru tentang siklus air."
"Eh? Tiba-tiba bahas pelajaran," ujar bocah lelaki, heran.
"Ekhm. Dengerin ya. Kenapa air di bumi ngga habis-habis? Karena airnya muter terus!" ujar sang bocah perempuan dengan antusias. Eh, sepertinya sang bocah lelaki ingat-ingat sedikit tentang pelajaran ini .... eh nggak deh. Lupa. Ia lebih banyak tidur saat guru menjelaskan.
"Muter kayak gimana? Kayak gasing?" tanya sang bocah lelaki dengan polosnya.
"Hih. Bukan muter kayak gitu. Ini pasti udah lupa sama pelajaran di sekolah, nih!
Jadi, air itu sumbernya banyak. Ada dari mata air pegunungan, ada air tanah, macam-macam. Seperti air kali ini, asalnya dari gunung di atas sana. Nanti air di sungai ini mengalir terus ke sungai yang lebih besar. Lalu ke yang lebih besar lagi. Lalu ke yang lebih, lebih besar lagi. Teruuuuuuussss... " sang bocah menarik nafas sejenak, "... sampai ke laut!"
"Lha terus muternya gimana? Udah di laut, kan? Balik lagi ke sungai?"
"Hih. Ketauan. Benar-benar nggak merhatiin."
"Dari laut, ya menguap! Jadi awan. Awannya ketiup angin, bergerak ke tempat lain. Bisa aja awannya naik ke atas gunung lagi. Terus turun hujan deh. Air hujannya ngalir ke sungai lagi, atau terserap ke tanah, dan terus seperti itu. Muter."
Sang bocah lelaki mengangguk asal. Ah, nggak paham. Otakku beda sama dia. Dia anak cerdas, apalah aku. Acap kali ibunya memanggil ia dengan sebutan-sebutan tak mengenakkan, yang semua bermakna sama: bodoh. Ah, biarlah. Peduli amat.
"Oh ya. Aku mau coba sesuatu. Aku mau taruh perahu kertas buatanku di arus ini. Mungkin dia bisa sampai ke laut. Kalau betulan bisa, bakalan hebat ..." ujar sang bocah perempuan. Ada yang berbeda dari tatapannya. Semacam menerawang jauh ke depan sana, lurus, namun menuju sesuatu yang tak tentu apa.
"Andai perahu ini bisa sampai ke laut, beruntungnya dia. Ada ngga ya, arus yang bisa bawa aku keluar dari desa ini? Aku mau lihat dunia luar. Aku mau sekolah di kota. Atau di luar negeri! Ah, benar! Aku mau lihat Kakbah, seperti lukisan yang ada di tembok rumah Pak Haji!" kegembiraannya tak lagi terbendung, kala sang bocah menyebutkan mimpi-mimpinya.
Ah, dasar edan, batin sang bocah lelaki.
(Bersambung...)


Comments
Post a Comment