Jangan Tulis Ini dengan Tinta Merah Hati


Sebuah catatan. Tertera di sana, tahun 2018, saat ia ditulis.

Sekali waktu --benar-benar sesekali, percayalah-- terlintas dalam benak ini, apa gerangan ya, yang salah denganku? Kok sulit sekali bagiku untuk dekat dengan kawan-kawan lelaki?

Sejauh ini, lingkar pertemanan tereratku selalu dengan kaum perempuan. Dari dulu. Jarang benar, bahkan mungkin aku tidak pernah berkawan sedemikian erat dengan laki-laki. Toh ketika aku "dekat" --dalam konteks berteman-- dengan laki-laki, biasanya karena teman perempuanku terlebih dahulu lah yang membuat kami dekat. Itupun hanya sebatas bertukar canda, atau teman mengerjakan tugas, semacam itu. Tanpa sang teman perempuan, di luar lingkaran tersebut, aku dan teman laki-laki itu bisa saja sangat abai satu sama lain.

Sekali waktu pula, kudapati seorang sahabat terdekatku berpacaran.  Sedikit banyak kupahami dari ceritanya, bagaimana mereka bisa dekat, bahkan memutuskan berpacaran. Agak ganjil, padahal aku, alih-alih sahabatku, notabene berada dalam organisasi yang sama dengan lelaki ini. Ah, tapi kalau dipikir-pikir, tidak aneh juga, sih. Berada dalam satu wadah yang sama tak lebih dan tak bukan hanya sebuah formalitas belaka. Erat tidaknya suatu relasi kadang tak ada kaitannya dengan label organisasi. (Eh, sebagai tambahan saja. Sedikitpun aku tak pernah menaruh rasa pada lelaki itu. Hanya tertarik mengamati fenomena yang tengah terjadi). Masih di jenjang pendidikan yang sama, aku pernah menaruh rasa pada seorang kawan sekelas. Tak ada yang pernah tahu ini, kurasa, bahkan sahabat-sahabat perempuanku sekalipun. Namun pernah suatu ketika, saat ku berada di kelompok yang sama dengan lelaki ini, aku benar-benar tak berkutik. Kikuk, gugup sekali. Hanya sebatas itu, tak lebih. Seperti kataku, tak ada yang pernah tahu pasti, kecuali diri ini.

Di suatu siang, aku mengingatnya. Sebuah permainan Truth or Dare menjadi saksi kebodohan, kenaifan --apapun kau menyebutnya-- dariku. Astaga, bisa-bisanya aku benar-benar berkata jujur ketika ditanya, siapa orang yang kau kagumi di kelas ini? Dampaknya cukup signifikan. Beberapa orang anggota permainan itu, selama beberapa bulan mendatang, cukup sering mengolok-olokku dengan dia. Hanya sekedar "cukup", bukan "sangat". Beruntungnya aku, olokan itu kian mereda saat dia mulai mendekati perempuan ini, berpacaran dengan adik kelas itu, kembali putus dan ber-pedekate dengan ini, itu, ini, itu ...

Sampailah aku pada titik di mana aku dipertemukan-Nya dengan sosok-sosok malaikat, ah tidak mengapa 'kan kusebut demikian? Sedikit banyak, walaupun banyak "agak" terpaksanya, aku mulai belajar untuk paham. Paham bahwa ada sekat-sekat yang seharusnya tak diterobos begitu saja. Sekat yang memisahkan antara dua jenis makhluk-Nya, tanpa serta-merta melupakan peran serta tanggung jawab yang perlu diusahakan bersama. Walau tentunya sekali lagi, hingga detik ini pun begitu banyak kealpaan melingkupi diri ini. Kealpaan yang menuntut untuk terus belajar lagi, lagi, dan lagi.

Tertanggal, suatu hari, pada tahun 2018.

Entah benar atau tidak, namun kurasa hari itu mencapai semacam titik balik kesadaranku. Ada suatu hal yang rupanya bersembunyi dibalik kekhawatiran-kekhawatiran yang pernah sesekali hinggap. Sebuah rencana-Nya yang istimewa? Tentunya demikian.  Bukan, bukan berarti lantas hilang semua rasa kagum yang pernah bersemayam dengan serta-merta. Bukankah hal tersebut masih normal? Namun yang kuyakini, kita semua memegang kendali atas segenap rasa yang hadir. Toh, ramai orang berkata, bilapun tak ada bahu 'tuk bersandar, sujudmu pada-Nya 'kan selalu dinanti sajadah yang terhampar. Bukankah demikan?

Lagi-lagi, Sang Maha Cinta benar-benar luar biasa mencintai kita. Tak akan habis pesan-pesan cintanya, lewat beragam ujian penuh hikmah. Seakan Dia ingin kita menunjukkan, seberapa besar rasa cinta kita pada-Nya? Sepenuh jiwa, atau sebatas lisankah? Apa benar, ketika kita telah paham aturan main-Nya, lantas kita akan berpegang teguh padanya? Atau diam-diam melanggar, dengan seribu satu alibi yang, percuma saja, takkan luput dari pandangan-Nya?

Hari ini, kulihat dengan mata kepala sendiri, betapa teknologi mampu menembus dinding yang tampak ada di dunia nyata, namun mengabur di dunia maya. Betapa suatu kemajuan, suatu keistimewaan yang tak pernah kurasakan sepenuhnya dahulu, kini membuat segalanya membaur, mencair, menghilangkan wujud asal diri. Ah, apa hendak kujawab di penghakiman kelak?

Diri ini, juga kau yang tengah membaca ini, mungkin pernah sama-sama berbuat kesalahan fatal. Maafkanlah. Berdamailah, usah kita ulangi lagi. Mari bersama-sama, kembali dalam kerinduan yang membuncah kepada-Nya. Pada Ia yang cintanya takkan usai, sepanjang napas masih dihela.

 


Comments

Popular Posts