Insecure? Yuk Ubah Jadi Bersyukur
A/N: artikel ini juga bisa dibaca di tautan berikut: Insecure? Yuk Ubah Jadi Bersyukur
Dan versi gambar (instagram) : Versi Instagram
---
"Wah, keren ya kamu. Kok jago banget sih, bikin gambarnya."
"Bagus banget tulisannya. Aku mah apa atuh,
remahan rengginang doang."
"Kamu lebih keren ..."
"Kamu."
"Enggak, kamu yang lebih keren!"
Kalau diteruskan, percakapan macam ini nggak akan ketemu
ujungnya, hehe.
Sobat Muslim, adakah di antara kalian yang sering seperti ini juga?
Maksud diri ingin berusaha rendah hati, eh jatuhnya kok malah cenderung insecure,
ya? Omong-omong, insecure itu apa, sih?
Generasi muda kita sepertinya sudah tak asing lagi ya, dengan
istilah satu ini. Merujuk pada Cambridge Dictionary, orang yang insecure
adalah mereka yang merasa kurang percaya diri dan meragukan kemampuan mereka sendiri. Ia
juga bisa dikatakan sebagai perasaan inferior atau merasa kurang dibandingkan
orang lain, baik pada saat kita merasa malu, bersalah, kekurangan, atau tidak
mampu melakukan sesuatu. Perasaan ini jika dibiarkan berlarut-larut, akan
menimbulkan krisis kepercayaan diri, bahkan kecenderungan untuk menghindari
interaksi dengan orang lain.
Gimana, sih, ciri-ciri orang insecure?
Sebelum melabeli diri sendiri atau orang di sekitar dengan predikat
insecure, baiknya kita cek dulu keberadaan tanda-tanda berikut. Apa
saja, sih?
Pertama, mudah tersinggung. Tak ada angin tak ada hujan, kita
merasa bahwa orang-orang yang bercakap di sebelah tengah membicarakan keburukan
kita. Loh, ge-er amat, ya? Padahal belum tentu yang mereka bicarakan itu
kita, lho.
Kedua, tidak percaya diri dan memandang diri sendiri rendah. Ada
standarisasi tertentu yang dibuat seseorang untuk membandingkan dirinya dengan
orang lain. Padahal, bukankah Allah ciptakan masing-masing dari kita unik?
Ketiga, ada yang sebenarnya cukup ekstrim. Pada kasus ini, sang individu
justru mencari perhatian dengan cara merendahkan orang lain. Tujuannya? Agar mereka
tampak tak kalah hebat dan punya sesuatu untuk dipandang. Motivasi utamanya ya sih,
karena rasa iri hati atas kelebihan lawannya.
Wajar nggak sih, merasa insecure?
Menurut hemat penulis, wajar saja. Bahkan penulis sendiri pun merupakan
salah satu "pengidap akut" penyakit ini hehe. Namun, apa iya hal
tersebut mau dibiarkan berlarut-larut? Tidak, bukan? Kalau begitu, simak yang
satu ini sampai selesai, ya!
Sudah jadi tabiat manusia untuk senantiasa membandingkan maupun mengaitkan
satu dengan lain hal. Akan tetapi dalam kasus tertentu, jika kita melakukannya
dengan ekstrim, tentunya dampaknya takkan baik. Namun, sobat, bersyukurlah
sebab kita terlahir sebagai seorang Muslim, di mana agama mulia yang kita anut
mengajarkan kita untuk tidak merasa lemah di hadapan manusia.
Dalam Islam, ketundukan kita selaku makhluk mutlak kepada Allah
swt. saja, lalu ke pada Rasul-Nya, dan Kitab-Nya. Tak apalah kita merasa lemah
di hadapan-Nya, sebab sejatinya kita memang tak berdaya tanpa kekuatan dan
pertolongan-Nya. Akan tetapi, jangan sekali-kali merasa rendah diri di hadapan
manusia, ya.
Jika perasaan rendah dirimu mulai kambuh, coba deh, ingat ayat
berikut:
"Dan
janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu
paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.” (QS Ali Imran : 139)
Dalam
Balutan Syukur, Dengan Spirit Qana'ah
Segala puji bagi Allah, tidaklah Dia ciptakan suatu apapun dalam
kesia-siaan. Tidakkah hal terebut lantas mengundang kesyukuran kita selaku
hamba-Nya? Bahkan Baginda Rasul sekalipun dengan jaminan surga dalam
genggamannya, tak lantas menjadikan beliau enggan beribadah. Tak lain tak
bukan, yang demikian adalah sebagai tanda syukur kepada Sang Pencipta alam
semesta. Oleh karena itu, terlepas dari segala kekurangan kita, mari renungkan
betapa banyak nikmat-Nya pada kita.
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika
kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'” (QS. Ibrahim: 7)
Satu lagi perasaan yang hendaknya kita pelihara dalam diri, yakni qana'ah.
Cukuplah kita atas segala nikmat yang telah Allah limpahkan. Jadilah kita seorang
yang kaya hati, yang takkan melanggar rambu-rambu ketetapannya demi hal-hal
yang masih mampu kita tangguhkan. Bukankah lebih nikmat, hidup dengan perasaan qana'ah?
Hidup yang tenang, tentram, dan damai dalam ketaatan.
Akan tetapi, perlu dicatat bahwa qana'ah tidak sama dengan masa
bodoh atau malas dalam berusaha. Qana'ah bermakna merasa cukup atas apa
yang dimiliki sebagai hasil dari upaya dan kerja keras, bukan hanya berpangku
tangan belaka.
"Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
'Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh
beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan diberikan oleh
Allah sikap qana’ah (rasa cukup) terhadap pemberian-Nya.'” (HR. Tirmidzi, dan
dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
Coba, kawan, alih-alih terlampau sering membandingkan diri kita
dengan tolak ukur keberhasilan orang lain, yuk coba ciptakan kesuksesan versi
kita sendiri. Cari tahu what we are good at. Kalau kita senang menulis,
coba deh tekuni hobi itu. Semisal kita kira-kira punya "bakat
terpendam" dalam bidang seni, coba pula kembangkan itu. Kalau jelek
gimana? Ya, nggak gimana-gimana. Coba saja terus. Boleh saja jadikan orang
yang lebih ahli sebagai role model kita, namun jangan terlalu terpaku
dengan standar mereka. Toh boleh jadi, pencapaian mereka yang sedemikian
itu bukanlah hasil yang instan. Jangan semerta-merta membandingkan diri kita
dengan mereka, ya.
Tak lupa, ajak pula orang-orang terdekat untuk turut memberi kritik
dan saran yang membangun bagi karya kita atau perkembangan kepribadian kita.
Intinya, surround ourselves with positive-minded people. Last but not least,
tetap gantungkan segala harap pada-Nya. Mohonlah agar Allah senantiasa
menjaga hati kita dari perasaan insecure yang sewaktu-waktu dapat
kembali kambuh. Semangat!
---
Referensi:
Aqidah Akhlaq. (n.d.). PT
Grafindo Media Pratama.
https://dictionary.cambridge.org/
https://www.kompas.tv/article/79520/kalam-hati-merubah-insecure-jadi-bersyukur-bagian-1
https://suaramuslim.net/yuk-cek-apakah-kamu-sedang-merasa-insecure-atau-tidak/
https://urfa-qurrota-ainy.tumblr.com/post/168849501051/jangan-merasa-lemah-di-hadapan-manusia


Betul nih, lagi sering banget dibahas tentang insecure. Saya kira artinya "dalam keamanan". In: dalam, secure = security = satpam. Iyakk, nggak nyambung emang wkwk
ReplyDeleteKuncinya bersyukur. Mantap dah~
Wah terima kasih banyak, kak Robby. Sampai dibaca kabem FMIPA nih, hehe.
DeleteBtw soal arti insecure, bener kok itu kata kak Robby. Asalkan in sama secure-nya dispasi, hehe 😂
Mantap kaka👍👍
ReplyDeleteTencu kakaa
DeleteSilakan sebarluaskan jika bermanfaat 😊
keren nadya... tulisanmu bisa bikin orang2 bangkit lagi..good job nadya.....
ReplyDeleteWadawww baru baca nih kak alvin. Makasih banyak, kak! Best of luck to us all
Delete