[Bagian 3] Pemetik Matahari - Lingkaran
"Mbak Wulan, mbak mondok di Rumah Qur'an kan ya? Share ke kita dong mbak, apa aja deh tentang Rumah Qur'an mbak."
Sore itu, mentari jingga bersinar lembut, menghangatkan tanah yang masih basah. Aroma petrikor menggelitik indra penciuman. Tetes air sisa hujan sesekali masih terdengar, menciptakan bunyi tak tak tak setiap kali ia menghantam atap seng bangunan kantin di bawah sana.
Di sebuah pelataran masjid, tepat di lantai atas halaman parkir yang terletak persis di samping kantin, lima orang perempuan tengah duduk melingkar. Hanya seorang di antara mereka berlima yang tak berpakaian putih abu-abu. Di tengah lingkaran itu, berbagai macam barang tersebar: buku tulis, pulpen, lima gelas teh, dan wadah mika berisi beberapa potong kue cubit.
"Nitip bawain kue cubit 3 mika ya, Fah. Mbak bayarin, buat nanti cemilan kita," ujar Mbak Wulan pagi itu via pesan chat. Dengan senang hati, Ifah pun memenuhi permintaan Mbak Wulan. Bahkan Ifah pun dengan sukarela menambahkan beberapa buah kue cubit lagi sebagai bonus darinya.
Seorang perempuan mencomot sepotong kue cubit sambil menunggu jawaban Mbak Wulan. Fauziyah, alias Fau nama gadis tersebut. Namun ia lebih akrab disapa Bapau karena pipinya yang berisi. Selain terkenal karena wajahnya yang menggemaskan, ia juga dikenal anak-anak seantero sekolah sebagai "mbak-mbak kotak amal". Amanahnya sebagai kepala Departemen Baitul Maal membuat ia dan para staffnya rajin keliling sekolah setiap Jumat, membagikan kotak amal per kelas di pagi hari, kemudian mengambilnya di siang hari. Soal kemampuan menghitung, tak perlu diragukan lagi. Bertumpuk koin logam dan berlembar uang receh bersolasi, berstaples, bahkan penuh corat-coret iseng, adalah santapan rutin ia dan kawan-kawan seperjuangannya.
Gadis lain di seberang mulai bersiap mencatat. Ia betulkan letak kacamatanya sebentar, lalu kembali ke posisi siap tempur dengan buku dan pulpennya. Hamidah namanya, manusia yang selalu langganan jadi sekretaris di manapun, kapanpun. Pernah sekali waktu ia dan Ifah berada di satu tim pada lomba karya tulis ilmiah tingkat Kota. Anaknya kritis dan senang membaca. Yang penting, jangan pernah memancing emosinya. Ia akan menjerit sekeras mungkin hingga telingamu sungguh-sungguh berdengung. Satu hal yang seringkali mengundang teguran bagi seorang muslimah sepertinya.
Sesi materi mentoring baru saja usai. Kini mereka tengah sharing apapun yang mereka rasa asyik dibicarakan.
"Hmm. Mau cerita mulai dari mana nih?"
"Dari awal mula mbak masuk RQ aja. Kenapa kok kepengen masuk RQ?"
"Oke deh. Mbak izin minum sebentar ya sebelumnya. Makasih Ashma' tadi udah mau nemenin mbak beli teh." Gadis yang disebut namanya mengangguk sambil membentuk gestur OK dengan jari.
Ashma' Zahura. Satu-satunya anak IPS di kelompok mentoring mereka yang khas dengan gaya swag-nya. Sekilas wajahnya tampak jutek, namun sesungguhnya ia gadis periang yang agak receh selera humornya. Jangan tanya kemampuan Bahasa Inggrisnya. Sudah entah berapa kali ia menjadi delegasi beragam kompetisi berbahasa Inggris, bahkan pernah hingga tingkat provinsi. Tak heran ia pun juga dipercaya sebagai ketua Sekbid 10 Komunikasi dalam Bahasa Inggris di OSIS. Menurut ceritanya, semenjak masa SMP di boarding school-nya dulu, ada hari-hari tertentu di mana para siswa diwajibkan menggunakan Bahasa Inggris maupun Arab.
Ashma' juga senang membuat konten berbahasa Inggris di media sosialnya. Seperti kali ini, lihat saja, Ashma' akan memotret lembar catatan milik Hamidah, lalu ia terjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan ia edit sedemikian rupa dengan ilustrasi yang ciamik.
"Gimana nih? Mbak lanjut cerita ya. Jujur aja sih, keinginan mbak untuk menghafal itu dulu karena kagum sama salah seorang teman baik mbak. Beliau mulai mondok dan menghafal semenjak masuk Tsanawiyah. Tiap liburan dari pondok, kita selalu ketemu. Suatu waktu beliau ngajak mbak dan teman-teman lain untuk ikut tantangan darinya, yaitu menghafal surat Ar Rahman."
"Tiap ketemuan, kita harus udah punya tambahan hafalan minimal lima ayat dari hafalan sebelumnya. Di hari itu, nanti kita bakal tebak-tebakan lanjutan ayat, semacam MHQ gitu. Walaupun demikian, cuma beberapa kali aja kita bisa bareng2 begitu, karena setelahnya teman mbak ini harus keluar dari pondok dan pindah ke luar pulau."
Semua yang ada di tempat itu menahan nafas. Hanya detak jam yang memecah kesunyian.
Mbak Wulan melanjutkan, "Setelah itu, mbak jadi pengen banget mondok seperti teman mbak. Qadarullah, mbak belum mendapat izin dari orang tua. Hingga akhirnya pun mbak lulus dari SMA ini dan mulai kuliah. Alhamdulillah, kampus mbak kan nggak terlalu jauh dari rumah, tapi tetap saja mbak merasa lebih nyaman kalau kost, agar tidak boros waktu di jalan."
"Lagi-lagi Allah pertemukan mbak dengan orang baik. Salah seorang teman se-fakultas mbak menawarkan untuk tinggal di Rumah Qur'an khusus mahasiswa. Kalian tentu tahu kan, di kawasan kampus mbak sendiri juga ada banyak kampus-kampus lain, baik swasta maupun politeknik milik pemerintah. Nah di situlah mbak merasa Allah benar-benar mengabulkan keinginan masa kecil mbak. Alhamdulillah, mbak tetap bisa menghafal Al Qur'an, dan tentunya kali ini orang tua mbak nggak keberatan, karena mbak pun nggak serta-merta meninggalkan kuliah."
Ifah dan kawan-kawannya terpana mendengar penuturan Mbak Wulan. Terselip ucapan Maasyaa Allah dan Keren banget! dari mulut para mentee.
"Nah teman-teman sekalian, mumpung kita lagi bahas soal RQ nih. Kalian semua mau nggak, kalau mulai pertemuan selanjutnya kita adain setoran hafalan juga?"
Seulas senyum tersungging di bibir Ifah. Tentu saja! Lain halnya dengan Fau dan Hamidah yang merengut.
"Kak. Maaf sebelumnya. Mau cerita aja nih, aku itu parah banget masalah hafalan. Mending kon ngitung duit kotak amal bolak-balik ping pitu, mbak!" keluh Fau.
"Yeu. Emang dasar Bapau mah semangat banget kalo masalah duit." ujar Ashma' seraya menowel pipi Fau.
"Eh monmaap yak. Uang umat ini, hoi. Bukan main-main," sergah Fau tak mau kalah.
"Hmm ... tapi bener juga sih, Mbak. Aku sama Fau kan basic-nya IPA nih. Memang kita berdua bukan yang ahli banget masalah hafalan. Beda cerita kalau Ifah mah. Dia udah kayak Ensiklopedia Biologi berjalan." curhat Hamidah.
Ifah pun membela diri, "Eh Hamidah ngarang aja. Dari mana ceritanya coba."
Mbak Wulan terkekeh melihat perdebatan kecil adik-adik binaannya. "Dik-adik, kalian jangan lupa, lho. Mbak Wulan juga mahasiswa Pendidikan Biologi. Rumpun IPA juga. Yaa walaupun kalau dibanding Ifah, wah mbak masih kalah jauh pastinya." ujar Mbak Wulan masih mencoba menahan tawa.
Ifah pun tak mau kalah, "Mbak Wulan ini tawadhu' sekali. Lihat deh teman-teman. Kita doakan semoga lekas dipertemukan dengan jodohnya ya." Pernyataan ini disambut dengan seruan Aamiin yang panjang, disusul gelak tawa yang pecah memenuhi selasar masjid.
"Astaghfirullah ..." lirih Mbak Wulan sembari menyeka matanya yang berair akibat tertawa. "Udah yuk ketawanya. Kita istighfar dulu." Tiap orang melirihkan istighfar di sela-sela tawa yang masih menyisa.
Mbak Wulan berdeham, lalu melanjutkan, " Oke. Fau, Hamidah, dan teman-teman semua, mbak izin bercerita sedikit ya. Apa bisa kita menghafal Al Qur'an jika kita ini orang eksakta? Tentu saja bisa! Aneh ya? Padahal menghafal pelajaran di sekolah saja kita mungkin kesulitan. Bagaimana bisa, Al Qur'an yang diturunkan dalam Bahasa Arab, yang mana bukan bahasa ibu kita, menjadi mudah untuk dihafalkan? Teman-teman, sambil dibuka ya mushaf-nya ..."
---
SEBELUMNYA:


Comments
Post a Comment