[Prolog] Pemetik Matahari


Siang itu, mentari bersinar terlampau terik. Kilatannya menembus jendela kaca yang memisahkan seorang gadis dengan dunia luar --pemandangan terminal bus di sebuah kota. Tidak terlalu ramai, sebagaimana terminal-terminal besar di ibukota, juga tidak terlalu sepi. Merasa sedikit terganggu dengan cahaya menyilaukan yang langsung tertuju padanya, gadis tersebut mencoba merogoh ranselnya, meraih sebuah map berisi dokumen-dokumen berharga. Alih-alih menutupi kaca seperti rencana awalnya, ia malah tertarik menekuni lembar demi lembar kertas berharga tersebut. Susah payah ia tahan air matanya agar tak menitik -ia takut kertas-kertas yang belum terlaminasi itu lebur dengan tangis harunya. Maha Besar Allah, ia sebut berulang kali dalam hati. Semua terjadi berkat ketetapan-Nya.

Bus mulai menggelincir meninggalkan lahan parkir. Angin sejuk perlahan mendesir, mengusir bebauan apek yang sejak semula membuat kepalanya berdenyut tak karuan karena saking mualnya. Ah, entah juga. Sebenarnya sakit di kepalanya juga bisa berasal dari sebab lain. Suatu kejadian berbulan silam, atau mungkin nyaris memasuki hitungan tahun. Sebuah hal yang tak mungkin ia lupakan. Ia hanya berharap agar kepulangannya kali ini mampu membawa secercah harapan. Bagi ibundanya, bagi adiknya yang tengah berusaha menggapai matahari. Selintas harapan yang membuat tangisnya kini benar-benar tak terbendung. Ia usap air matanya dengan kerudungnya yang menjuntai, seraya melantunkan doa,

"Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami."

---

SELANJUTNYA :

[Bagian 1] Pemetik Matahari - Sebuah Rencana


Comments

Popular Posts