[Prolog] Pemetik Matahari
Bus mulai menggelincir meninggalkan lahan parkir. Angin sejuk perlahan mendesir, mengusir bebauan apek yang sejak semula membuat kepalanya berdenyut tak karuan karena saking mualnya. Ah, entah juga. Sebenarnya sakit di kepalanya juga bisa berasal dari sebab lain. Suatu kejadian berbulan silam, atau mungkin nyaris memasuki hitungan tahun. Sebuah hal yang tak mungkin ia lupakan. Ia hanya berharap agar kepulangannya kali ini mampu membawa secercah harapan. Bagi ibundanya, bagi adiknya yang tengah berusaha menggapai matahari. Selintas harapan yang membuat tangisnya kini benar-benar tak terbendung. Ia usap air matanya dengan kerudungnya yang menjuntai, seraya melantunkan doa,
"Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami."
---
SELANJUTNYA :
[Bagian 1] Pemetik Matahari - Sebuah Rencana



Comments
Post a Comment