Ramadhan dan Sebuah Surat Yang Tak Pernah Sampai

"Ramadhan lasts for 40 days, right?"
"Do you eat a lot during sahoor?"
"And will you eat something during the day or not?"
"Sorry for asking, but aren't you starving?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut seringkali terlontar akhir-akhir ini, manakala kuceritakan padanya apa itu Ramadhan dan segala hal yang berkaitan dengannya. Dia adalah teman penaku, seorang gadis berkebangsaan Polandia berusia tak jauh beda dariku. Dulu kami sering berkirim surat — ya, surat sungguhan, bersampul dan berperangko— hingga salah satu pihak, tepatnya aku, mulai terjebak segala macam dinamika kehidupan kampus dan memutuskan untuk mangkir dari dunia surat-menyurat.

Dalam percakapan kami (yang mana kini lebih sering menggunakan aplikasi chat ketimbang surat sungguhan), baik aku maupun dirinya selalu bersemangat menceritakan keseharian kami, terutama di masa pandemi. Terkhusus bagiku, pada Ramadhan kali ini, semua terasa amat berbeda.

Ah, andai semua yang kuketahui tentang Ramadhan mampu kulukiskan dalam sebaris-dua baris kalimat saja padanya. Semua kenangan, segala keutamaan. Nyatanya, aku tak kuasa. Terutama Ramadhan kali ini, yang mana sungguh berbeda. Istimewa, jika hendak menggambarkannya dalam istilah bernuansa positif.

Ramadhan tahun ini, mungkin jadi sekolah kehidupan terbaik yang pernah ada.

Tahukah kamu? Dahulu aku termasuk anak yang enggan shalat tarawih di masjid. Berisik. Tidak ada satu anak pun yang kukenal. Semua asing, semua ribut sendiri. Yang kutahu, aku hanya harus mengisi agenda Ramadhan sebaik mungkin. Menulis ceramah hingga satu halaman penuh kalau bisa. Sementara, yang lain hanya bisa satu-dua baris saja, lantas pergi bermain dengan yang lain. Lama-lama aku bosan, dan memilih #dirumahaja ketika Ramadhan akan berakhir dalam hitungan hari.

Tahukah kamu? Tahun silih berganti, satu-dua orang mulai kukenali. Beberapa mulai mengajak mengaji bersama hingga malam larut sekali, begitulah dalam benak seorang bocah SD yang selalu takut pagar rumah keburu dikunci. Satu hal yang membuat mata tetap terjaga : segelas air mineral dan suguhan kue yang tak pernah tak nampak menarik.

Tahukah kamu? Waktu berjalan tak kenal ampun. Belasan tahun telah berlalu. Seorang yang katanya mulai beranjak dewasa itu, sibuk dengan segala aktivitasnya. Padat sekali kegiatannya, demikian katanya. Pagi siang menuntut ilmu, sore menghadiri rapat nan suntuk, malam-malam habis di jalanan; sarat akan kantuk, bosan, dan lelah. Lantas kapan waktu untuk beribadah? Bukankah katanya ini bulan Ramadhan?

Ramadhan tahun ini, mungkin jadi sekolah kehidupan terbaik yang pernah ada.

Ah, terlanjur sudah tulisan tentang keluh kesah ini memenuhi kertas. Andai ku mampu kirimkan secarik tulisan tanpa arah ini padamu. Ternyata aku lebih mencintai kertas dan pena ketimbang  cahaya layar yang senantiasa menerpa mata.

Ternyata aku lebih mencintai ramadhan, di mana aku dapat bersua dengan para pencari ridha-Nya. Orang-orang yang hatinya terpaut pada rumah-Nya. Orang-orang yang berkumpul dalam lingkaran cinta-Nya, menghiasi majelis-majelis mereka dengan indah lantunan kalam-Nya.

Namun, benarkah demikian? Jujurkah aku ketika mengatakannya tadi?

Barangkali Allah benar-benar tengah mengujiku, menguji kita semua. Sudahkah semua kita lakukan dengan ikhlas?

Apakah kalimat "inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil aalamin" hanya menjadi penghias semata dalam sedekap kita menghadap-Nya? Sudahkah kita memaknainya sepenuh jiwa?

Ramadhan tahun ini, mungkin jadi sekolah kehidupan terbaik yang pernah ada.

Mungkin inilah cara terbaik dari-Nya, untuk mendekap kembali hamba-hamba-Nya. Agar mereka menghidupkan kembali cahaya rumah yang bertahun meredup. Rumah yang acap kali ditinggal penghuninya, sibuk mencari hal fana di luar sana.

Comments

  1. Replies
    1. No, I'm not, kak 😆
      You are way cooler than I am 🌱

      Delete
    2. setuju banget nun, emang nadya kerjaannya merendah wkwkwk

      Delete
    3. Whoa wait. Ini ka syaima apa ka syaira 😆

      Delete

Post a Comment

Popular Posts