If Only Home Could Speak

O' shall you recall the memories about
Me, an old place called home, while trying to pour its heart out?

The always-bustling corridor,
The unworking projector,
The buzzing photocopy machine,
The haste footsteps at eight fifteen,
The frigid cold room,
The creeping dusk and its gloom,
The nauseating smell of mildew,
The crush of yours came into view,
The morning class you skip,
The giggles on a new gossip,
The shouting here and there,
The heaving sigh of despair,
The "hello" and "see you later",
The burden that always seems greater,
The glee amidst sorrowness,
The joyful cry of happiness.

My final words, at last,
I thank whatever fate brought to us,
For not letting you see me crumbled to dust.
I am grateful of the etched stories from the past,
For each memories, decades long, would always last.
#AFarewellToHome
---

Kalau ada pembaca yang bertanya-tanya apa maksud puisi ini (entah, tidak terlihat seperti puisi juga), baiklah, akan kujelaskan.

Ada beberapa petunjuk yang mengarah pada siapa si "aku", sebuah tempat yang disebut rumah. Sapaan "O'... " di awal bait bukanlah tanpa maksud. Selain sebagai kata sapa, O adalah label yang melekat pada sebuah gedung di Universitas Negeri Jakarta, tepatnya gedung perkuliahan mahasiswa Bahasa Inggris. Jika kalian adalah salah satu mahasiswa yang pernah mendapat kehormatan selaku penghuni gedung ini, berbahagialah, walaupun kini semua tinggal memori. 

Penulis berandai apabila sang bangunan tua yang kini tanpa nama, tanpa rupa itu mampu bicara, mungkin ia akan melepas rindu pada anak-anak manusia yang pernah bersua dengannya. Ia biarkan mereka bernostalgia dengan beragam kenangan tentangnya. Pada akhir riwayatnya, mungkin sang gedung pun sedikit lega dan bersyukur, karena akibat "dirumahkan"-nya mahasiswa selama pandemi, mereka tak perlu melihat rumah kesayangan mereka berubah gundukan puing di atas tanah.

Semoga berkenan.
Titip rindu untuk ia yang tak lagi berwujud.

Salam penghuni Gedung O. Hehe ...

Comments

Popular Posts