[Bagian 2] Pemetik Matahari - Dialog Meja Makan

"Assalamu'alaikum, dik. Udah pulang to kamu?" ucap Ifah saat memasuki rumah.

"Wa'alaikumussalam. Udah mbak. Mbak bawa jajanan ndak mbak?" adik Ifah, Alfi, telah menyambut di depan pintu.

"Wah, ndak e dek. Maaf ya. Besok lagi ndak papa ya? Ini uangnya mbak pakai buat beli beras dulu."

"Yo wes ndak papa. Habis ini bantuin PR ku yo mbak." ujar Alfi, setengah merajuk.

"Sip. Mbak tak ngumbahi sek ya.¹ Nanti sore kalau Ma'e belum balik, bantu Mbak masak juga lho."

Benar saja, ibunya pulang agak malam hari itu. Sepertinya ada perkerjaan tambahan yang harus beliau kerjakan. Untungnya, makanan malam itu telah siap. 

Ya, demi menghidupi kedua anaknya, Ma'e harus bekerja sebagai rewang atau pembantu rumah tangga. Dari satu rumah ke rumah lain, ia lakukan pekerjaan yang mampu mengasapi dapur kecilnya, mulai dari jadi buruh cuci, membantu hajatan, dan sebagainya. Tak selamanya imbalan tenaganya diberikan dalam bentuk uang. Apapun ia terima, beras, minyak, selagi bisa membuat keluarganya tak perlu tidur dalam keadaan lapar.

Ma'e luar biasa. Tak sampai hati ku membayangkannya berjuang sendiri sepeninggal bapak, atau mungkin aku kelak, batin Ifah

Bapak meninggal dua tahun silam, saat Ifah baru sejenak merasakan euforia sebagai siswa salah satu SMA negeri favorit di kota. Siapa sangka, keistimewaan yang tak banyak dirasakan kawan-kawan di desanya itu, harus dibayar mahal dengan perginya sang kepala keluarga. Begitu pikir Ifah. Ia harus benar-benar memutar otak, bagaimana caranya agar tetap bisa menempuh perjalanan belasan kilometer tanpa membebani kondisi finansial keluarganya.

Jadilah ia berjualan makanan kecil di sekolahnya. Pagi-pagi benar ia berangkat, hanya berselang tak lama setelah sembahyang subuh. Angkot pertama yang akan membawanya menuju salah satu pasar, ia manfaatkan sebagai ajang bertemu mereka yang akan kulakan di sana. Ada seorang nenek dari dusun yang letaknya di atas rumahnya. Beliau biasa membawa kue-kue kecil yang akan ia jual di pasar. Di dalam angkot itu juga, Ifah membeli beberapa buah pisang molen dan onde-onde, lalu mengemasnya dalam plastik, sebungkus berisi tiga buah kue, untuk ia jual kembali di sekolah. Kadangkala, jika sang nenek tak membawa jajanan, atau saat teman-teman Ifah memiliki permintaan khusus, ia akan mencari kue jenis lain langsung di pasar. Seperti pagi ini, ia berjualan kue cubit favorit sahabatnya, Aul.

Dari hasil usaha kecil-kecilannya itu, setidaknya terhitung hingga hari ini Ifah hanya pernah sesekali meminta uang transport ataupun uang jajan pada ibunya. Bahkan uang jatah jajan yang ia sisihkan selama beberapa hari kadang mampu untuk ia belikan seliter-dua liter beras. Malahan, pada waktu tertentu ia bisa membeli sebuah buku diskon ataupun buku bekas di salah satu toko buku di kota.

"Dhahar riyin, Ma'e²," ujar Ifah sambil menyendokkan sepiring nasi untuk Ma'e.

"Turnuwun, ndhuk,³ " Ma'e duduk di salah satu kursi ruang makan. "Kamu yang belikan beras, to?"

"Iya, Ma'e."

Ma'e hanya terdiam, namun segurat senyumnya menyiratkan rasa terima kasih yang dalam. Mereka menyantap makanan dalam hening, hingga Ma'e berkata "Ndhuk, kamu jadi sekolah lagi habis lulus? Di sini aja, ndhuk. Ngancani Ma'e. Mesakke mengko adimu ra ono sek ngrewangi sinau.⁴ "

Ifah tertegun. Ia ingin mengutarakan pendapatnya, namun ia tak sampai hati. Ia menghela nafas, lalu mulai berbicara, amat berhati hati.

"Ma'e, Ifah keinget Pak'e, mak. Pak'e pernah bilang, Pak'e kepengen Ifah jadi seperti orang-orang yang ngerawat pak'e pas di rumah sakit dulu. Jadi perawat atau dokter. Pak'e pengen Ifah bisa nolong banyak orang. Tapi Ifah juga ndak bisa lakuin itu, tanpa izin Ma'e."

"Mak, insyaa Allah Ifah akan cari cara supaya bisa lanjut sekolah tanpa membebani Ma'e. Ma'e percaya sama Ifah, to?"

Air mata Ma'e mengalir. Ifah makin merasa tak karuan. Ia bersimpuh dekat kaki ma'e sambil menatap wajah Ma'e yang menunduk. "Ma'e, Ifah nyuwun ngapunten sanget.⁵ Mak..."

"Kula nuwun.⁶ "

Terdengar suara seorang laki-laki dari luar, disusul ketukan pada pintu. Ifah berseru "Sekedhap⁷ " sambil berlari menuju kamar, memakai jilbab panjang, rok dan kaus kakinya sesegera mungkin. Ia baru mau berlari ke luar ketika terdengar suara pintu reyot yang telah terbuka.

"Kesuwen. Adimu wes mrono,⁸" ujar ma'e setengah kesal sambil menuding ke arah pintu. 

"Mak... ngapunten" lirih Ifah lagi.

"Koe sekolah dhuwur-dhuwur ki gawe opo ta ndhuk? Nek koe nang omah malah isa ngrewangi Ma'e nyambut gawe. Saiki malah, opo ki? Arep metu omah wae ndadak nanggo klambi dhawa. Marakke ribet.⁹"

Ah, cukup sudah rasanya. Ifah kembali duduk, menyantap sisa makanannya. Setelah membersihkan piring-piring kotor, ia langsung berwudhu, menunaikan shalat isya', dan berbaring di atas karpet palembang di kamarnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Pengirimnya adalah Mbak Wulan, mentornya di kelompok halaqoh yang ia ikuti. Ia usap layar ponsel miliknya --bukan, bukan ponsel genggam pintar seperti milik kebanyakan orang. Pesannya berisi pengingat majelis halaqoh yang akan diadakan esok sepulang sekolah. Setelah menjawab pesan, ia letakkan ponselnya dan kembali menatap lekat-lekat palang kayu penopang genteng rumahnya. Ia amati satu per satu lubang di atap, hingga tanpa sadar ia telah dibawa menjelajah alam lain.

---
CATATAN :
¹  Mbak nyuci baju dulu ya.
²  Makan dulu, Ma'e
³  Terima kasih, nak.
⁴  Kasihan nanti adikmu nggak ada yang nemenin belajar.
⁵  Benar-benar minta maaf.
⁶  Permisi
⁷  Sebentar
⁸ Kelamaan. Adikmu sudah ke sana.
⁹ Kamu sekolah tinggi-tinggi itu buat apa sih, nak? Kalau kamu di rumah malah kan bisa bantu Ma'e kerja. Sekarang malah, apa ini? Mau keluar rumah aja harus pakai baju panjang. Bikin ribet. 

---
SEBELUMNYA :

SELANJUTNYA:

Comments

Popular Posts