[Bagian 1] Pemetik Matahari - Sebuah Rencana

(Tiga tahun silam...)

Suara nyaring seorang siswa laki-laki menggema, memenuhi seantero sekolah. Kalimat demi kalimat komando terdengar darinya. Tiap beberapa waktu, suara tersebut beralih menjadi milik seorang siswi yang berbicara menggunakan pelantang, membacakan susunan upacara dengan intonasi yang teratur.

Di dalam sebuah kelas, pada salah satu sisi bangunan sekolah, dua orang tengah duduk di lantai muka kelas. Pada leher mereka terpasang sebuah syal segitiga berwarna kuning cerah. Dalam ruang kelas yang disulap menjadi ruang kesehatan dadakan tersebut, salah seorang siswi menyodorkan bungkusan berisi dua buah kue yang ia ambil dari meja.

"Nih, ya. Cokelat satu, sama kacang. Dua-duanya pandan."

"Wah, makasih banyak, mblo. Hafal aja kesukaanku. Hehe... " ujar yang satu seraya menyerahkan selembar uang dua ribu rupiah.

"Mbok sering-sering to. Lumayan esuk-esuk gawe ngganjel weteng¹," lanjutnya sambil melahap sepotong kue cubit.

"Weh, padha-padha. Ning yo raiso ngene terus saben Senin.² Kalau bukan gara-gara aku ndak sempat ke kelas buat naruh dagangan, aku juga ngga berani kali, ah. Takut kepergok Bu Uma," sang siswi penjual kue menyebut nama pembina ekstrakurikuler PMR di sekolah mereka. Pagi ini, ia datang nyaris terlambat, sehingga langsung bergegas ke ruang kelas-garis miring-UKS dadakan tersebut dengan membawa serta tas dan barang dagangannya. Mungkin Bu Uma takkan mengizinkan yang demikian --berjualan atau makan saat sedang mendapat tugas piket.

Hening menyelimuti seisi ruangan bahkan sekolah. Hanya ada suara berkelontang dari tali dan tiang bendera yang mungkin tengah bersiap dikibarkan, ketika Aul, siswi yang tengah mengisi perut, buka suara.

"Ra kroso tenan yo. Teko-teko wes kelas rolas³," ujarnya. Yang diajak bicara tengah asyik mencelup-celup teh di dalam teko air panas.

"Ada rencana apa sehabis lulus, Fah?" Aul bertanya kepada Ifah, lawan bicaranya.

"Kuliah lah, mosok rabi.⁴ Hehe... " Ifah menjawab sekenanya.

"Yo sopo ngerti ae,⁵ Fah. Cewek cerdas solihah kayak kamu gini, siapa yang nggak kepincut sama kamu to?" kelakar Aul, lantas berimbas pada satu jitakan yang mendarat di kepalanya.

"Insyaa Allah aku pengen kuliah. Sama kayak kamu, dan mungkin sebagian besar murid sekolah ini," ucap Ifah lirih. Pandangannya menerawang ke luar jendela, bersarang pada sebatang pohon bintaro yang berdiri kokoh di samping pendopo sekolah. Seekor burung gereja terbang dari salah satu dahan pohon tersebut, mengepakkan sayap kecilnya menuju langit pagi yang biru nan cerah.

"Ifah, kita coba ambil beasiswa sama-sama yuk," kali ini suara Aul ikut-ikutan lirih.

"Oh ya, kemarin pas liburan, aku pernah sih, iseng-iseng nyari beasiswa kuliah di internet. Kebanyakan pasti ngasih saran buat daftar di sekolah tinggi kedinasan yang terkenal itu, lho. Di salah satu kota dekat Jakarta." ujar Aul.

"Ah, yang itu ya? Aul minat masuk sana?" tanya Ifah.

"Hmm gimana ya. Antara minat nggak minat. Bidangnya bukan aku banget sih. Tapi kalau dipikir-pikir, enak banget. Kuliah dapat uang saku, setelah lulus kerjanya terjamin. Ayah sama Ibu juga sepertinya bakal mendukung banget aku masuk sana."

"Ah, begitu ya," ujar Ifah sambil tersenyum simpul. Ia tahu, sahabatnya yang satu itu tidak terlalu menyukai hitung-hitungan ekonomi yang rumit. Sama seperti dirinya. Mereka berdua memiliki passion yang sama pada ilmu hayati, khususnya bidang kesehatan. Hal inilah yang mempertemukan keduanya pada ekstrakurikuler yang mereka jalani hingga hari ini.

"Tapi, Fah, ada satu lagi yang mau aku kasih tau, nih," Aul menyambung ceritanya, kali ini dengan gegap gempita.

"Jadi, aku waktu itu juga sempat nemu info tentang sekolah tinggi ilmu kesehatan di salah satu kota. Kampus itu nawarin beasiswa penuh, loh! Ya... walaupun jenjangnya hanya D-3, tapi lumayan kan?"

"Wah, iya to? Boleh juga tuh. Syaratnya apa aja?" tanya Ifah yang mulai antusias.

"Ada tesnya, termasuk tes tertulis juga tes fisik. Tapi sebagai syarat awal, pastinya sih nilai rapot yang memadai. Ah, aku sih yakin, buat Ifah yang selalu masuk 10 besar peringkat paralel, nggak jadi soal, ya kan? Sedangkan aku, hmm... gampang lah. Aku kan anak buah kesayangan Bu Uma dan Pak Abimanyu, guru Fisika kita. Santuy aja..." ujar Aul sambil terkekeh. Haduh, ada-ada aja emang anak satu ini.

Ajakan Aul kali ini cukup menggiurkan, pikir Ifah. Entah kepercayaan diri dari mana, ia merasa sepertinya jalan menuju dunia kampus terpampang begitu luas di hadapannya. Namun seketika sebuah pikiran berkelebat dalam benaknya. Kampus yang Aul sebut terletak jauh dari kota tempat mereka tinggal. Lantas, mereka mau tak mau harus menyewa kost di sana. Biaya dari mana?

"Hmm... Aul kalau jadi daftar, bakal ngekost berarti ya?"  tanya Ifah.

"Oh, masalah tempat tinggal. Ah gampang itu. Budhe-ku orang sana asli. Beliau sudah agak sepuh⁶, anak-anaknya pun semua sudah menikah dan merantau ke luar pulau. Semisal beliau ndak keberatan, dan kayaknya sih nggak akan keberatan, kita bisa tinggal di sana. Budhe pasti senang banget. Beliau nggak suka tinggal sendirian, sepi katanya."

"Kita? Aku juga? Nggak enak sama Budhe-mu, Ul," ujar Ifah, tak yakin.

"Ho'oh. Kamu juga. Nek ra penak rasah dipangan to⁷," Aul kembali berkelakar.  Satu jitakan kembali mendarat di kepalanya.

Waduh, rasa-rasanya semua terlalu menggembirakan jika bisa terwujud, batin Ifah. Baik hati nian kawannya yang satu ini, bahkan sudah menyiapkan segala rencana sebaik ini.

"Makasih banyak, Aul. Jadi banyak ngerepotin keluargamu nih. Tawarannya menarik banget, aku juga jadi kepengen kuliah di sana. Tapi, aku minta waktu untuk pertimbangin dulu, ya?"

"Oke siap bos!" Aul berujar sambil membuat gestur hormat. "Aku suka nih sama spirit-spirit kayak gini." 

"Spirit opo to? Spiritus?" celoteh Iffah sambil terkekeh, lantas berjalan menuju pintu, kembali menatap beberapa ekor burung gereja yang masih hinggap di pohon bintaro. Entah bagaimana caranya, ia akan meyakinkan Ma'e tentang rencananya dan Aul kali ini, ujarnya dalam hati.

Lamunannya buyar ketika seisi lapangan mendadak riuh, lalu berangsur mereda ketika suara shhh... terdengar di sana-sini. Suara beberapa langkah yang terburu-buru kian mendekati tempat ia berdiri. Tiga orang rekannya menghampirinya seraya terengah-engah membopong seorang siswa yang terkulai lemas. Dengan sigap, ia membuka lebih lebar pintu kelas, menyiapkan tempat pembaringan dan segala sesuatunya bagi korban. Yang ia tahu, setelahnya ia dan rekan-rekannya sibuk mengurus si sakit, dan rencananya tentang kuliah menguap entah ke mana.

---
Catatan :
¹ Sering-sering, dong. Lumayan buat mengganjal perut.
² Weh, sama-sama. Tapi ya nggak bisa begini terus setiap Senin.
³ Nggak kerasa, ya. Tiba-tiba sudah kelas dua belas. 
⁴ Kuliah lah, masak nikah. 
⁵ Ya siapa tau aja. 
⁶ Tua
⁷ Kalau nggak enak ngga usah dimakan, dong. 

---
SEBELUMNYA :

SELANJUTNYA   :

Comments

Popular Posts