The Onlooker



Dini hari, lewat pukul 00.00

Seseorang tengah asyik bergumam. Dalam gumamannya, kadang terselip seruan semacam "oh"  atau "aduh", bahkan sesekali terlontar umpatan yang tak seharusnya keluar. Suara-suara tersebut beradu dengan suara yang lebih lirih, pena beradu dengan perkamen. Bahkan suara sekecil itupun mampu kudengar. Pada waktu tertentu, suara pena berganti lembar kertas yang dibalik. Lalu suara pena lagi, kini diketuk-ketuk. Lambat laun terdengar suara erangan tampaknya orang tersebut mulai bosan. Terdengar langkah kakinya yang beranjak dari kamar hendak menuju dapur, ketika ia tiba-tiba berhenti di depan sebuah kursi.

"Oh, halo..." ia tersenyum, agak dipaksakan. Tersirat letih di wajahnya. Hanya sepatah kata itu saja, lantas ia membukakan pintu dan membiarkanku keluar. Ah, memang peka sekali. Aku senang dengannya.

Ketika mulai agak jauh, terdengar suaranya di ambang pintu, "Ah benar. Sumpek ya di dalam. Di sini ternyata segar sekali." Ia hirup udara malam itu dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Seakan dengan demikian, masalah yang ia alami akan turut terbuang. Larut bersama karbon dioksida yang menyesakkan ruang napasnya.

---

Pagi yang cukup normal. Setidaknya begitulah, menurut para penghuni rumah.

Anak-anak bersiap berangkat ke tempat mereka menimba ilmu. Sarapan terhidang sudah, walau dengan amat tergesa. Ah, aromanya nikmat sekali. Bahkan sulit sekali rasanya menahan air liur agar tak menetes. Tapi, ah, lagi-lagi aku hanya bisa menonton rutinitas pagi ini sambil leyeh-leyeh.

Pukul 7 lebih. Semua anak telah berangkat. Ayah mereka belum kembali dari mengantar anak-anaknya yang bersekolah jauh. Sang ibu lantas beranjak ke warung, dan kembali nyaris setengah jam kemudian dengan menjinjing beberapa buah kantong plastik. Salah satunya begitu memikat, ah entahlah, pikiranku sudah melayang entah kemana oleh aroma ini. Kulihat wajah sang ibu sumringah, walau tampak agak sedikit menahan air mata.

"Alhamdulillah... dapat rezeki lagi. Hari ini dibayarin belanjaannya sama Ibu Budi," ujar sang ibu.

Aku tak begitu paham maksudnya. Yang kutahu, sang ibu menyodorkan sebuah mangkuk plastik, dan aku menyantap isinya dengan sangat lahap.

---

Menjelang pukul dua belas siang, bocah perempuan tersebut pulang. Agak lebih awal dari biasanya, karena ia sedang menempuh tes Penilaian Tengah Semester. Tasnya nampak amat terlalu berat untuk anak sebayanya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Raut wajahnya langsung amat ceria begitu melihatku. Ia adalah favoritku, yang paling perhatian padaku.

"Ganti baju dulu! Jangan langsung main!" Seru seseorang dari dalam, agak terlalu keras volumenya. Namun sebelum masuk kamar, bocah tersebut membuka tasnya, meraih sepucuk surat. Mendadak air mukanya berubah, tak lagi semangat seperti semula. Diberikannya surat tersebut pada ibunya. Tak lama berselang, ia telah selesai mengganti pakaian seragam. Dengan mengenakan jaket dan jilbab instan khas anak-anaknya, kini ia bermain di halaman rumahnya yang kecil dengan riang gembira, seolah tak terjadi apa-apa. Aku mengikutinya dan kami bermain bersama.

---

Seorang bocah remaja lelaki berseragam bawahan biru tua menuntun sepedanya. Ia biarkan langkah kakinya membawanya beriringan di sisi sepeda tersebut. Dengan ogah-ogahan, ia sandarkan sepeda tersebut, lantas masuk rumah dengan salam singkat yang terkesan tanpa niat. Ia langsung masuk kamar, duduk di tepian ranjang dan meraih sebuah gitar. Ia biarkan jemarinya menciptakan bunyi genjrang-genjreng pada keenam senar alat musik tersebut. Kian lama bunyinya kian apik, tak seperti awal-awal saat masih baru dulu. Beruntung ia, wali kelasnya tahun ini pandai bermain alat musik petik itu. Ia belajar banyak dari gurunya itu.

Di sekolah, orang-orang mengenal bocah lelaki satu ini sebagai anak yang cukup pandai  dan pendiam. Ah, mereka belum tahu saja bagaimana anak ini sesungguhnya, di masa yang lampau, jauh, jauh sekali. Ia lantas menghampiri lemari pakaian seraya menarik daun pintunya. Sebuah celengan bertengger di antara tumpukan pakaiannya. Di sana, tertulis dengan spidol hitam : "Buat Beli HP". Ia baru hendak menutup pintu lemari, ketika aku menyembul dari baliknya. Dengan gemas, ia mengangkatku dan mengguncang-guncangkan tubuhku dengan keras sekali. Aduhh, kepalaku pusing benar. Aku meraung kencang, sementara dengan lagak menakut-nakuti ia bersuara, "Hayo... ngapain hayo? Hayooo!", masih sambil mengguncang-guncangkan tubuhku tanpa ampun.

---

Sore itu sejatinya cukup damai. Selepas shalat asar, seorang pria paruh baya menyalakan laptopnya. Berbekal jaringan internet nirkabel milik tetangganya (tentunya dengan seizin sang pemilik), ia menyetel beberapa lagu barat era 60-an. Atau 50-an. Entahlah, acak sekali. Ia rebahkan diri di atas lantai beralaskan sajadah, sambil mendendangkan beberapa larik lagu yang ia hafal. Kali ini giliran salah satu folk song yang dipopulerkan Jim Reeves pada zamannya.

But zzz zzzz zzz.... zzz zzzz zzzz in the meadow,
Or when the zzz zzz zzz...,
It's I'll be here in sunshine or in shadow,

Astaga. Suaranya jadi melengking begini.

Oh, Danny boy, oh Danny boy, I love you so!

Pada lirik selanjutnya yang ia tak hafal, maka ia hanya akan bersenandung saja.

Ah, sesungguhnya banyak hal yang tengah menggelayuti pikirannya kini. Semuanya berubah ketika ia jatuh sakit bertahun-tahun silam. Tak banyak yang sesuai dengan ekspektasinya. Usahanya terhambat beberapa kali. Sempat keluarganya pulih dari kondisi tersebut walau dengan amat tertatih, namun hal itu hanya berlangsung sejenak. Kini semua tak lagi seperti dulu yang serba nyaman dan enak.

Ah, andaikata... pikirannya seringkali terlempar pada masa-masa itu. Betapa ia masih menyesali hal-hal yang luput ia lakukan di masa-masa dahulu. Skenario-skenario yang masih berkutat dan berputar cepat di kepalanya. Entahlah.

Aku yang berada di sampingnya hanya terdiam. Mengantuk sekali. Ia membelai kepalaku sesekali seraya bergumam dalam hati, semoga kelak anak-anakku tumbuh menjadi manusia tangguh.

---

Seseorang melirik arloji digital-nya. Masih jauh dari pukul delapan. Skenario terburuk jika sampai tak ada yang menjemput, ia masih bisa naik angkot sekali lagi, walau hal itu sangat ia hindari. Setelah mengucap terima kasih pada supir dan kondektur bus, ia melompat turun dan berlari untuk menyetop angkot pertama. Di dalam mobil Carry merah bata tersebut, ia rogoh tasnya untuk mengecek ponsel. Ah... ia mengutuk dalam hati. Perasaan ponselnya masih memiliki cukup daya tadi. Apa boleh buat. Ia takkan bisa minta dijemput kini. Terpaksalah ia mengeluarkan uang untuk membayar jasa angkutan dua kali, jika bus yang ia naiki tak masuk hitungan.

Sepanjang jalan, pikirannya melayang kemana-mana. Ah, lelah juga harus menimba ilmu lintas kota seperti ini. Namun lagi-lagi, ia malu sendiri jika terlalu banyak mengeluh.

"Ah, bukankah banyak juga yang seperti ini? Bahkan kondisinya lebih-lebih dari yang kualami," lirihnya dalam hati.

Anehnya, pikiran-pikiran tanpa arahnya ini masih saja menggelayuti. Ah, apa benar keputusanku untuk tetap melanjutkan pendidikan? Bersyukur aku mendapat beasiswa. Andaikata tidak, akan seperti apa aku? Pekerjaan apa yang mungkin kuambil?

Ah, topik itu lagi. Sangat mengganggunya. Rasa tak senang mulai muncul dalam hatinya, pada dirinya sendiri.

Semenjak ia mendapat beasiswa, tentu saja ia amat bersyukur. Banyak hal bisa ia penuhi sendiri kini, tanpa terlalu banyak bergantung pada sesiapa. Namun, ia pun sadar betul, seolah ada yang berubah darinya. Ia kini lebih banyak apatis pada kondisi rumah. Dengan dalih mampu membiayai dirinya sendiri, ia habiskan waktunya lebih banyak di luar rumah. Walaupun untuk kegiatan yang sejatinya baik, akan tetapi, rumah seakan bukan lagi tempat berpulang ternyaman.

Ah, ada apa ini?

Sesungguhnya ia sadar betul kondisi keluarganya. Ah, bukan ia enggan menyisihkan waktunya untuk lebih banyak berkhidmat di rumah. Entahlah.

Lantas pikiran jahatnya muncul. Toh mereka juga tak memperdulikan hadirku.

Entah berapa lama waktu berlalu, seketika ia telah turun dari angkutan dan berhadapan dengan gerbang rumahnya. Aku melihatnya. Wajahnya amat letih. Entah mengapa akhir-akhir ini pun ia tampak lebih kurus. Sejurus sebelum ia membuka gerbang, aku melompat menghampirinya. Ia tampak agak terkejut, namun langsung tersenyum menatapku. Setengah bersimpuh, ia rengkuh aku dalam pelukannya. Tubuhku tiba-tiba terasa basah.

Ia menangis sejadinya.

Comments

Post a Comment

Popular Posts