Sekelumit Cerita Kopit Naintin
![]() |
| Sumber : https://wallpaperaccess.com/coffee-laptop |
Kalau bukanlah karena saya takut berbuat dosa atau menyakiti
hati orang, akan saya keluarkan segenap sumpah serapah dengan sepenuh hati. Trust
me, I'm good at it, even though I always, and will always try my best to fight
the urge to curse out loud. Yah, sekonyol-konyolnya manusia macam diri ini,
setidaknya self control saya cukup baik, haha.
Harusnya, malam ini, dengan duduknya saya di depan layar,
satu per satu tugas akan lenyap dari daftar panjang yang konon tak berkesudahan
itu. Ah, macam mimpi indah di siang bolong saja ternyata, bung! Otak ini
sungguh lambat (bukan bermaksud mencaci pemberian Tuhan, bukan begitu). Jika
kawan-kawan saya yang cerdas mampu menyelesaikan tugas dengan apik dalam hitungan
detik – sebentar, jangan menatap saya seperti itu, dong! Saya tahu, saya memang
sungguh lambat, tak cekatan, sudah begitu pemalas pula. Yah, baiklah, memang
saya masih harus berbenah lagi. Toh, saya tak meminta siapapun menunggu saya
atau menjemput saya dalam ketertinggalan. Biarlah saya berusaha sekuat semampu
saya, biar begini saya masih yakin akan kemampuan sendiri.
Memang, saya menulis ini semata-mata untuk membuang
semua sampah yang dua hari, atau entah berapa hari ke belakang membuat ruang
kepala penuh sesak. Saya khawatir jika dibiarkan lebih lama, selayaknya sampah
betulan, ia akan membusuk, dikerumuni lalat, dihinggapi beraneka serangga dan
rupa-rupa larva; sebut saja belatung. Hih!
Baiklah... sebenarnya saya pula bukan tipikal orang yang
mudah menyalahkan siapapun, apapun atas hal yang terjadi, terutama hal buruk.
Semua kegilaan ini, salah si Kopit Naintin (eh, maksudnya Covid-19)? Saya
rasa tidak adil menyalahkan suatu entitas yang bahkan bukanlah sebuah makhluk
bernyawa. Iya, virus itu benda mati, kan? Saya masih ingat pelajaran Biologi,
kok. Sedangkan kita, Homo sapiens, makhluk hidup dengan intelektualitas
tinggi, punya akal (biar kata lola alias loading lama sekalipun), punya
hati nurani pula. Yah, walaupun kita-kita ini – tentunya termasuk saya juga –
mungkin belum menyandang gelar Prof., dr., Ir., apalah (lha wong S.Pd
saja belum), apa iya sih Tuhan menganugerahkan akal tersebut bukan untuk sesuatu?
Meskipun dengan latar pendidikan sekarang ini, rasa-rasanya agak sulit
menjadikan diri ini pahlawan penemu penangkal virus Corona yang tengah mewabah,
but at least kita masih bisa jadi
pahlawan bagi diri sendiri dan lingkungan terdekat. Eh, ya nggak sih? #CMIIW
kalau kata anak-anak gaul mah...
Wah, buat sekarang, ndak usah terlalu muluk-muluk,
deh. At least yak, saya mau berusaha dulu untuk bertahan di tengah kepungan
tugas yang menghantam; tanpa marah-marah, tanpa sambat sana-sini di media
sosial, yang ujung-ujungnya ya gitu-gitu aja, tugas tak kunjung selesai, tapi energi
negatifnya sudah menyebar kemana-mana. Percaya ndak percaya, ketika kita
marah atau kesal, teman lain yang awalnya masih ber-mood baik, lama-lama
akan tertular jadi badmood juga. Apa ndak tambah mumet tuh, liat orang-orang
dari ujung ke ujung misuh-misuh semua?
Saya juga punya prinsip (iya, saya menyebut istilah prinsip
biar kalian anggap serius omongan saya, eh), bahwa ndak ada ceritanya
Tuhan Yang Maha Penyayang, Allah subhanahu wa ta'ala, menimpakan suatu hal pada umat
manusia, kecuali ada sebabnya. Mau Kopit Naintin kek, atau apa kek, everything
happens for a reason. Saya anggap ujian adalah semacam challenge, alias
tantangan. Apa serunya bermain game jika hanya berkutat di level mudah?
Yap, kalian cerdas, kalian pasti bisa menganalogikannya sendiri dengan sangat
baik. Saya anggap pula ujian adalah an opportunity instead of a threat. Sebuah
kesempatan, alih-alih ancaman. Mungkin hanya bungkus luarnya yang tak terlalu
meyakinkan, kesannya aduh, nggak banget deh ini, bye bye world. Tidak
begitu, kawan. Siapa sangka, suatu hal yang berbalut duka dan nestapa, justru
mampu menjadi wahana untuk belajar menjadi lebih baik. Menjadi pribadi yang
tangguh, tahan banting, bukannya jadi aceng alias anak cengeng. Yah sok
bijak amat saya ya. Ah tapi tidak apa-apa lah, ya. Kan sharing is caring, benar
demikian?
Sebenarnya, inti dari semua ke-sok bijakan saya barusan,
saya hanya ingin berbagi. Bukan hanya keluh kesah belaka, namun juga refleksi
dan pengingat diri sendiri. All these effort and pain, what for? Bukankah
untuk mencari keridhoan-Nya? Mencari keberkahan dalam setiap helaan nafas yang
tersisa? Will Corona ever kill us in the end, we may never know. As for
myself, I don't want to die now. I think I will never be ready for any kinds of
death, either. However, let's just prepare whatever things we need before we
set sail, eh? Before we go towards the very end.



Comments
Post a Comment