Pandemi dan Jiwa-Jiwa yang Meluruh



Sumber : https://www.psychiatry-uk.com/safeguarding-and-suicide-trying-to-end-it-all/
"A disease may not kill, but our lack of humanity will."

Kata-kata yang selintas lalu lewat di benak ini, tadinya hanya berasal ketidaksengajaan belaka. Saya memang suka saja merangkai kata-kata secara acak dalam Bahasa Inggris. Kalau bermakna dan memotivasi, alhamdulillah, namun bila tidak, mungkin akan berujung pada opsi delete, hehe.

Namun beberapa hari belakangan, kata-kata tersebut seolah masih berputar di kepala. Ah, apa pernyataan tersebut benar adanya? Ataukah hanya berujung pada rangkaian kata yang tampak berima tapi tak bermakna?

Hari ini, tepatnya 22 Maret 2020, adalah hari ketujuh semenjak pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak bepergian dan beraktivitas di luar. Pun dengan pihak kampus maupun sekolah-sekolah yang memberikan kebijakan agar para siswanya belajar di rumah, dengan metode pembelajaran jarak jauh alias PJJ. Tak terkecuali pembelajaran, bahkan forum-forum diskusi dan bertukar ilmu, hingga kegiatan keorganisasian pun tak luput dari tambahan gelar online. Agak canggung awalnya memang. Berusaha beradaptasi di tengah kondisi yang tiba-tiba mengharuskan (nyaris) 24/7 berada di depan layar tentu bukan hal mudah, setidaknya bagi saya. Mata ini rasanya kian lelah saja, harus terpapar sinar dalam waktu cukup lama, tiap hari.

Selain itu, ada juga yang masih mengganggu di benak saya.  Bagi beberapa orang yang telah sadar, mereka akan dengan sukarela melakukan social distancing dan menekan intensitas bepergian keluar rumah. Konsekuensinya, tentu saja, intensitas kegiatan sosial pun akan menurun. Tiada lagi tatap muka antar teman sejawat. Semua beralih ke dunia maya. Tidak, saya tidak membahas mereka yang tetap bersikukuh bepergian kesana-kemari. Biarlah, mungkin mereka punya alasan tersendiri, walaupun sudah diperingati. Selama tagar #dirumahaja masih berlaku, yang mana entah sampai kapan kita belum tahu, seberapa jauh kita akan bertahan? Padahal, ini baru menginjak hari ketujuh, seperti yang saya sebutkan tadi.

Mungkin kita akrab dengan istilah homo socius yang pernah kita pelajari semasa sekolah. Ya, manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Saya pribadi yakin, se-introvert apapun seseorang, se-tertutup apapun dia, sejatinya masing-masing individu butuh berinteraksi dengan orang lain. Beruntungnya kita sebagai generasi yang tengah merasakan pesatnya perkembangan teknologi, di masa Revolusi Industri 4.0 ini setidaknya banyak alternatif yang mampu kita manfaatkan dalam kondisi social distancing. Tidak ada lagi alasan sepi walau raga tak seutuhnya hadir. Namun, ah, apa yang demikian itu cukup? Bahkan dalam hal kegiatan beribadah pun, tak banyak yang bisa dilakukan secara bersamaan. Akui atau tidak, kita akan tetap merindukan wajah-wajah yang saling bertatap, masing-masing diri yang saling berkumpul. Jalanan, tempat-tempat umum mulai sepi. Pun saat seseorang menemui kita karena suatu hal, takkan ada lagi jabat tangan, tak peduli wanita atupun lelaki. Semua menjaga diri agar tak jadi bagian dari korban pandemi.

Dari yang saya amati pada diri ini juga kebanyakan kawan saya (tentunya via media sosial), semua tiba-tiba merasa rindu pada aktivitas mereka semula. Se-melelahkan apapun itu, se-menguras tenaga dan biaya pun, mereka benar-benar rindu hal-hal kecil yang biasa mereka lakukan sehari-hari. Berkumpul di titik-titik tertentu di kampus sembari bercengkrama, bersenda gurau, makan bersama. Bahkan hak-hal sederhana semacam celotehan kawan yang tak lagi mampu ia dengar, atau tingkah dosen yang menurut mereka menyebalkan. Atau saat-saat mereka harus berkerumun menunggu angkutan umum, bermacet-macet ria, semua menjadi kenangan sendiri selama pandemi ini.

Yang mana tak mampu kita lakukan saat ini.

Singkatnya, apakah seiring berlalunya waktu, kondisi psikis kami juga akan terampas, sebagaimana terampasnya hal-hal kecil keseharian kami akibat merebaknya wabah ini? Seolah stress adalah bagian yang tidak terelakkan selama proses pengisolasian diri ini. Sebab nyatanya, interaksi langsung adalah sesuatu yang amat kita butuhkan, walaupun teknologi sekalipun telah banyak membantu mempererat hal yang nyaris renggang. Ah, mungkin inilah benang merah yang mampu saya kaitkan dengan pernyataan saya di awal.

A disease may not kill, but our lack of humanity will.

Humanitas, tak terbatas pada perasaan welas asih yang manusia miliki. Alhamdulillah, soal rasa peduli, kita lihat sendiri betapa hebatnya umat manusia saling bahu-membahu menghadapi bencana ini. Namun, ini soal humanity yang lain. Yaitu what makes us human, sesuatu yang membuat kita layak dijuluki manusia. Tak hanya sewujud raga atau fisik, manusia tak lepas dari unsur psikis, bukan? Jikalau kondisi tertentu akan membuat kondisi mental kian terdegradasi -- ah, baiknya saya tak perlu melanjutkan lagi.

Namun di balik semua itu, bukan manusia sejati namanya kalau tak mampu mengatasi masalah dan hanya berkeluh kesah. Akal yang Allah beri sebagai anugerah bagi umat manusia, tentu harus kita maksimalkan, bukan? Allah pula sang pemilik hati kita, yang akan menjaganya selagi kita senantiasa bergantung pada-Nya. Ah, sekarang lakukan saja apa yang kita mampu, selagi tetap berdoa penuh harap kepada Sang Maha Pengabul. Just let it flow... and hopefully we all can get through this, safe and sound. Biidznillah.

Sebagai penutup, teruntuk jiwa-jiwa yang mulai meluruh nan rapuh...
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran." (Q.S. Al Baqarah :186)

Ditulis di Kota Patriot, 22 Maret 2020
#dirumahaja


x

Comments

Popular Posts