Hari Ketujuh
Humans are odd. Or is it just me?
Aku akan senantiasa merindukan sebuah pertemuan. Baik nyata ataupun maya. Karena rupanya, keduanya menguatkan, dengan cara yang berbeda.
Sebuah surat, 20.22.03
Aku akan senantiasa merindukan sebuah pertemuan. Baik nyata ataupun maya. Karena rupanya, keduanya menguatkan, dengan cara yang berbeda.
Satu jalan temu kita kini tertutup. Apa daya, kita hanya mampu bertekuk lutut pada amanat para petinggi.
Lalu, turun lagi, sebuah sekat yang membatasi ruang maya. Sebuah dinding yang sejatinya telah terpancang lama dan kami rawat baik-baik, walau kami pulalah yang merusaknya, sadar tak sadar. Lantas suatu hari, seseorang memugarnya kembali. Diri ini jadi sungguh enggan merusak dinding itu kembali, walau berarti harus siap kembali menyendiri.
Ah, entah apa yang kupikirkan. Mengkorelasikan jarak dengan sepi. Menutup diri dengan sunyi. Kau tahu? Banyak orang masih peduli. Mungkin aku yang terlalu skeptis dan menganggap semua kini berdiri sendiri-sendiri.
Ah, atau memang benar demikian?
Selamat datang di hari ketujuh. Ini masih permulaan. Namun ku percaya seutuhnya, kita telah terbiasa sebelumnya. Dan akan jauh lebih terbiasa selanjutnya.
Jaga diri baik-baik. Banyak hal akan berubah akibat pandemi, namun kau tahu benar, aku akan selalu di sini.
Sebuah surat, 20.22.03


Comments
Post a Comment