Tentang Aku dan Rumah
Rumahku, ia memanggil kala itu.
Dengan gegap gempita, meneriakkan kata-kata memikat dengan penuh semangat. Tak mengapa, ujar diri ini. Sekali ini saja, karena ini rumahku. Biarlah walau tak seorangpun ku kenal baik, karena ini rumahku. Mungkin kala kita mencoba memperbaikinya bersama, aku akan lebih mengenal mereka.
...
Waktu berputar
...
Waktu bergulir
...
Waktu berlari dan entah apa lagi
...
Waktu, ia menggilasku hingga nyaris lumat
...
Aku ingin menyerah saja. Tuhan, percepatlah waktu, lebih dari sebelumnya. Aku ingin segera mengakhiri ini...
Aku lelah...
Begitu pintaku kala itu. Manusia egois, diri ini. Ia lupa angannya dulu, bahwa ia hanya ingin rumahnya tetap kokoh walau diterpa badai. Namun kala badai datang, ia ingin berlari, berpaling sejauh mungkin dari rumah yang membesarkannya...
Pada akhirnya, waktu membawaku sampai pada satu titik di mana tugasku selesai. Kini, aku hanyalah pengamat. Rumahku kembali dikokohkan. Oleh orang-orang lain yang jauh lebih hebat. Satu per satu asa dan usaha disusun. Ah, aku kini hanya pengamat dan penikmat rumah ini.
Aku memandangimu. Aku jauh, namun sejatinya masih berada dalam naunganmu.
Tuhan, kutitipkan rumahku. Biarkan orang-orang tangguh yang menjaganya. Biarkan orang-orang berhati bersih yang merawatnya. Hingga kelak kami tua renta, agar kelak ku dapat bercerita pada anak cucuku...
... bahwa aku tak pernah menyesal berada di rumah itu.
---
Terima kasih atas segalanya. Jika kau orang yang tepat, maka kau akan tahu tentang apa sesungguhnya aku berkisah.
Dengan gegap gempita, meneriakkan kata-kata memikat dengan penuh semangat. Tak mengapa, ujar diri ini. Sekali ini saja, karena ini rumahku. Biarlah walau tak seorangpun ku kenal baik, karena ini rumahku. Mungkin kala kita mencoba memperbaikinya bersama, aku akan lebih mengenal mereka.
...
Waktu berputar
...
Waktu bergulir
...
Waktu berlari dan entah apa lagi
...
Waktu, ia menggilasku hingga nyaris lumat
...
Aku ingin menyerah saja. Tuhan, percepatlah waktu, lebih dari sebelumnya. Aku ingin segera mengakhiri ini...
Aku lelah...
Begitu pintaku kala itu. Manusia egois, diri ini. Ia lupa angannya dulu, bahwa ia hanya ingin rumahnya tetap kokoh walau diterpa badai. Namun kala badai datang, ia ingin berlari, berpaling sejauh mungkin dari rumah yang membesarkannya...
Pada akhirnya, waktu membawaku sampai pada satu titik di mana tugasku selesai. Kini, aku hanyalah pengamat. Rumahku kembali dikokohkan. Oleh orang-orang lain yang jauh lebih hebat. Satu per satu asa dan usaha disusun. Ah, aku kini hanya pengamat dan penikmat rumah ini.
Aku memandangimu. Aku jauh, namun sejatinya masih berada dalam naunganmu.
Tuhan, kutitipkan rumahku. Biarkan orang-orang tangguh yang menjaganya. Biarkan orang-orang berhati bersih yang merawatnya. Hingga kelak kami tua renta, agar kelak ku dapat bercerita pada anak cucuku...
... bahwa aku tak pernah menyesal berada di rumah itu.
---
Terima kasih atas segalanya. Jika kau orang yang tepat, maka kau akan tahu tentang apa sesungguhnya aku berkisah.


Comments
Post a Comment