Hey Little Train, Wait for Me!
Rabu, 19 Februari 2020
Ah, kalau boleh jujur, sampai hari ini aku masih malu menceritakannya. Buatku hari itu konyol sekali.
Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun menjadi solo traveler lintas provinsi (?) , aku ketinggalan kereta.
---
Semenjak kembali kekampung kota halaman (re : Planet Bekasi) dan beralih status menjadi mahasiswa sebuah universitas negeri di Jakarta (maaf, mau nyombong sedikit ✌), salah satu agenda besarku tiap kali menjelang liburan semester adalah kembali ke kota/kampung perantauan —terserah lah apa sebutannya— di Magelang. Sepintas nampaknya tak terlalu sulit mewujudkan agenda tersebut. Akses transportasi menuju tempat tersebut tergolong mudah, tiketnya pun bisa dibilang murah. Pandai-pandai saja mengatur moda transportasi apa yang akan digunakan sembari mempertimbangkan tarif dan waktu tempuh. Syukur-syukur bisa bonus jalan-jalan di kota sekitarnya.
Seharusnya, perjalanan kali itu akan menjadi perjalanan keduaku setelah resmi menjabat sebagai tukang-mondar-mandir-Bekasi-Jakarta-untuk-kuliah-katanya. Qadarullah, Allah memang sebaik-baik perencana, aku yakin begitu. Setahun penantianku setelah perjalanan sebelumnya di Februari 2019, harus tertunda (lagi). Kali ini dengan skenario yang cukup wow.
Liburan semester ganjil menuju genap, amanah di rumah tempatku belajar "memaksaku" menangguhkan rencana pulang kampung. Baiklah... tidak apa-apa. Menjelang Desember 2019, rasa-rasanya masih memungkinkan mencuri waktu barang sepekan untuk lari sejenak dari sesaknya ibukota. Lagi-lagi tidak jadi, kurang persiapan dari jauh-jauh hari. Di bulan Januari, sesungguhnya banyak waktu luang menjelang akhir bulan. Kalau nanti-nanti, keburu semua orang pergi, kembali ke kampus masing-masing. Tidak jadi lagi, uang keburu habis sebelum akhir bulan.
Akhirnya, mau tidak mau, demi mewujudkan cita-cita pulang kampung yang terus-menerus tertunda, aku tetapkan keputusan untuk pulang di bulan Februari. Alhamdulillah, di beberapa tanggal, masih tersisa cukup banyak kursi kereta "impian" yang luar biasa murahnya itu. Kubulatkan tekad, lalu kususun rencana sedemikian rupa, terutama masalah keuangan, agar tidak keburu boncos sebelum waktunya berangkat. Allah Maha Baik, hingga menjelang hari keberangkatan, jumlah uang di tabungan masih cukup untuk bertahan selama liburan nanti, kira-kira hanya meleset 15% dari estimasi awal. And I can even be proud of myself, because I didn't even ask a single penny from my parents for this trip, hehe.
---
Sehari sebelum keberangkatan, aku berada di kampus seharian, mengikuti sebuah agenda silaturahim. Since Bekasi is located on the other side of galaxy, you can imagine how long the trip will take, even tho you left the campus quite early. Malam-malam masih mengeram di angkot. Baterai ponsel sekarat, sementara salah seorang kawan tengah butuh berkoordinasi terkait suatu hal. Yah, begitulah. Hingga ketika malam telah larut, aku memutuskan untuk tidak tidur dan mulai mengepak barang-barang (yaa... kebiasaan lama yang konyol. Packing yang mepet sekali dengan waktu keberangkatan!). Pukul tiga, akhirnya aku menyerah dan terlelap begitu saja di lantai. Terbangun pukul empat. Persiapan yang gembradag, memasak bekal seadanya. Things went unpleasantly that morning, I should've left home by myself no matter what, for the sake of the time.
Akhirnya sampailah aku di Stasiun Bekasi, dan ternyata kereta selanjutnya menuju Jatinegara baru berangkat pukul 05.45! Lemas lah aku, padahal kereta ke Yogya berangkat pukul 06.30 dari Pasar Senen. I've been through a kind-of-similar circumstance before, but fortunately the situation was pretty advantageous back then. Intinya, sepanjang perjalanan aku hanya bisa istighfar... istighfar... dan istighfar... serta berharap entah bagaimana caranya, aku takkan tertinggal kereta.
Aku pun tiba di Jatinegara. Entah pukul 6 lewat berapa. Namun kabar buruknya, kereta menuju Pasar Senen baru berangkat pukul 06.24.
Apparently, this is impossible.
Yah sudahlah. Kali ini aku tidak berharap banyak. Aku masih mencoba berbaik sangka terhadap situasi apapun yang mungkin terjadi. Biarlah, tidak apa-apa. Tiket hangus tak lagi masalah. Aku akan tetap mencoba melanjutkan perjalanan ke Pasar Senen, dengan secuil harap bahwa akan ada suatu keajaiban, somehow.
Tapi tidak semudah itu. Beberapa saat sebelum KRL ku memasuki Stasiun Pasar Senen, sebuah kereta yang familiar melintas. Aku tidak sempat melihat papan nama kereta tersebut, tapi ya sudahlah...
Aku tiba di Pasar Senen. Setelah memastikan bahwa kereta yang akan kunaiki memang benar-benar telah berangkat, akhirnya aku duduk di salah satu kursi sambil menahan air mata. Salah seorang kawan mengirim pesan WhatsApp dengan emoji kereta dan kata "Magelang". Out of nowhere.
"Ohayou... ga jadi pulkam," balasku.
"NANIII!!!!!???????????????"
"Qadarullah. Kayaknya Allah pengen ngajarin soal disiplin waktu nih. Jadi agenda hari ini : makan di stasiun senen ✌🏻✌🏻✌🏻"
Ah, kalau boleh jujur, sampai hari ini aku masih malu menceritakannya. Buatku hari itu konyol sekali.
Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun menjadi solo traveler lintas provinsi (?) , aku ketinggalan kereta.
---
Semenjak kembali ke
Seharusnya, perjalanan kali itu akan menjadi perjalanan keduaku setelah resmi menjabat sebagai tukang-mondar-mandir-Bekasi-Jakarta-untuk-kuliah-katanya. Qadarullah, Allah memang sebaik-baik perencana, aku yakin begitu. Setahun penantianku setelah perjalanan sebelumnya di Februari 2019, harus tertunda (lagi). Kali ini dengan skenario yang cukup wow.
Liburan semester ganjil menuju genap, amanah di rumah tempatku belajar "memaksaku" menangguhkan rencana pulang kampung. Baiklah... tidak apa-apa. Menjelang Desember 2019, rasa-rasanya masih memungkinkan mencuri waktu barang sepekan untuk lari sejenak dari sesaknya ibukota. Lagi-lagi tidak jadi, kurang persiapan dari jauh-jauh hari. Di bulan Januari, sesungguhnya banyak waktu luang menjelang akhir bulan. Kalau nanti-nanti, keburu semua orang pergi, kembali ke kampus masing-masing. Tidak jadi lagi, uang keburu habis sebelum akhir bulan.
Akhirnya, mau tidak mau, demi mewujudkan cita-cita pulang kampung yang terus-menerus tertunda, aku tetapkan keputusan untuk pulang di bulan Februari. Alhamdulillah, di beberapa tanggal, masih tersisa cukup banyak kursi kereta "impian" yang luar biasa murahnya itu. Kubulatkan tekad, lalu kususun rencana sedemikian rupa, terutama masalah keuangan, agar tidak keburu boncos sebelum waktunya berangkat. Allah Maha Baik, hingga menjelang hari keberangkatan, jumlah uang di tabungan masih cukup untuk bertahan selama liburan nanti, kira-kira hanya meleset 15% dari estimasi awal. And I can even be proud of myself, because I didn't even ask a single penny from my parents for this trip, hehe.
---
Sehari sebelum keberangkatan, aku berada di kampus seharian, mengikuti sebuah agenda silaturahim. Since Bekasi is located on the other side of galaxy, you can imagine how long the trip will take, even tho you left the campus quite early. Malam-malam masih mengeram di angkot. Baterai ponsel sekarat, sementara salah seorang kawan tengah butuh berkoordinasi terkait suatu hal. Yah, begitulah. Hingga ketika malam telah larut, aku memutuskan untuk tidak tidur dan mulai mengepak barang-barang (yaa... kebiasaan lama yang konyol. Packing yang mepet sekali dengan waktu keberangkatan!). Pukul tiga, akhirnya aku menyerah dan terlelap begitu saja di lantai. Terbangun pukul empat. Persiapan yang gembradag, memasak bekal seadanya. Things went unpleasantly that morning, I should've left home by myself no matter what, for the sake of the time.
Akhirnya sampailah aku di Stasiun Bekasi, dan ternyata kereta selanjutnya menuju Jatinegara baru berangkat pukul 05.45! Lemas lah aku, padahal kereta ke Yogya berangkat pukul 06.30 dari Pasar Senen. I've been through a kind-of-similar circumstance before, but fortunately the situation was pretty advantageous back then. Intinya, sepanjang perjalanan aku hanya bisa istighfar... istighfar... dan istighfar... serta berharap entah bagaimana caranya, aku takkan tertinggal kereta.
Aku pun tiba di Jatinegara. Entah pukul 6 lewat berapa. Namun kabar buruknya, kereta menuju Pasar Senen baru berangkat pukul 06.24.
Apparently, this is impossible.
Yah sudahlah. Kali ini aku tidak berharap banyak. Aku masih mencoba berbaik sangka terhadap situasi apapun yang mungkin terjadi. Biarlah, tidak apa-apa. Tiket hangus tak lagi masalah. Aku akan tetap mencoba melanjutkan perjalanan ke Pasar Senen, dengan secuil harap bahwa akan ada suatu keajaiban, somehow.
Tapi tidak semudah itu. Beberapa saat sebelum KRL ku memasuki Stasiun Pasar Senen, sebuah kereta yang familiar melintas. Aku tidak sempat melihat papan nama kereta tersebut, tapi ya sudahlah...
Aku tiba di Pasar Senen. Setelah memastikan bahwa kereta yang akan kunaiki memang benar-benar telah berangkat, akhirnya aku duduk di salah satu kursi sambil menahan air mata. Salah seorang kawan mengirim pesan WhatsApp dengan emoji kereta dan kata "Magelang". Out of nowhere.
"Ohayou... ga jadi pulkam," balasku.
"NANIII!!!!!???????????????"
"Qadarullah. Kayaknya Allah pengen ngajarin soal disiplin waktu nih. Jadi agenda hari ini : makan di stasiun senen ✌🏻✌🏻✌🏻"


Ditunggu postingan cerita ke magelang nnti di tahun 2020!
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
Delete